Tempat Wisata Yang Ada Di Indonesia: Objek Wisata Di Nusa Tenggara Timur

PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Pemerintah memutuskan provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi daerah unggulan gres pariwisata di daerah timur Indonesia mulai 2007. Penetapan itu bertujuan menjadikan NTT sebagai gerbang Asia-Pasifik berbasis pariwisata, seni, dan budaya yang spesifik. Dengan kekayaan dan keindahan alamnya baik tumbuhan maupun faunanya yang bermacam-macam dan langka. Salah satunya ialah Komodo binatang langka yang hidup berjuta-juta tahun yang kemudian dan hanya ada di pulau komodo.
Beberapa objek wisaya yang ada di Nusa Tenggara Barat sebagai tujuan wisata kita.



TAMAN NASIONAL KOMODO

Cerita Penemuan Sang Naga
Sepenggal kisah, kepopuleran pulau komodo berawal pada tahun 1910 ketika para pasukan belanda mendapatkan laporan adanya monster naga yang mendiami sebuah pulau yang kemudian diterbitkan dalam sebuah paper hindia belanda oleh Peter Ouwens, administrator Museum Zoologi di Wisata Bogor, kabar ini tersebar hingga seantero dunia, kabar ini pula yang mendorong W. Douglas Burden melaksanakan ekspedisi ke pulau komodo tahun 1926 dan kemudian menjadi orang pertama yang memberi nama Komodo Dragon.

Komodo Dragon
Taman ini didirikan tahun 1980 letaknya di antara Pulau Sumbawa dan Flores dengan luas 1817km2 yang 6 tahun kemudian ditetapkan sebagai situs warisan alam dunia dan cagar biosfir oleh UNESCO tempat konservasi untuk melestarikan Komodo, sebetulnya bukan hanya habitat naga purba yang legendaris ini saja yang dilestarikan alasannya ialah TNK juga rumah bagi begitu banyak keanekaragaman hayati didarat maupun laut, jadi disana mata kita akan dimanjakan oleh pemandangan yang elok dan aktifitas binatang yang menarik.
Pulau Komodo
Komodo
Taman Nasional Komodo terdiri dari 3 pulau besar yang indah, Pulau Komodo, Rinca dan Padar, selain tempat habitat Komodo taman ini juga sebagai rumah bagi setidaknya 1000 spesies ikan, ratusan spesies karang, koral dan 70 jenis tumbuhan sponge , 19 spesies paus dan lumba-lumba, juga banyak terdapat plankton yang merupakan makanan utama Pari Manta (Manta Birostris), binatang eksotis yang bisa dijadikan ikon laut daerah Taman Nasional Komodo.
Tanah warna merah Taman Nasional Komodo yang terpantul dari terik matahari flores sangat memikat mata, bentangan hutan kering dan savana dipadu dengan daerah perbukitan menghadirkan keindahan tiada tara, paduan biru langit, putihnya sapuan awan tipis, merah tanah dan hijau savana mengatakan keindahan lukisan alam tersendiri tiada bandingannya, pesona keindahan Taman Nasional Komodo membuat pulau ini memang layak dikunjungi.
Ada begitu banyak pertunjukan alam di Taman Nasional Komodo tapi pertunjukan utama tentu menyaksikan dari dekat satu-satunya habitat orisinil dari salah satu binatang purba yang masih berkembang biak hingga ketika ini, anda bisa berdekat-dekat dengan binatang ini sambil mengbayangkan hidup jutaan tahun lalu, indahnya.
Jangan mengkhawatirkan keganasan Komodo, alasannya ialah ketika berkunjung ke Taman Nasional Komodo anda akan didampingi para Jagawana atau Ranggers sebutan untuk para pemandu yang gagah menghalau kalau komodo terlalu dekat dengan kita, para jagawana ini bisa dikenali dari tongkat panjang bercabang mirip ketapel pada ujungnya yang ia bawa, para rangger pula lah yang akan memilihkan Track yang sesuai dengan kemampuan kita.
Keindahan Laut
Bagi para penyelam, keindahan keanekaragaman laut di Taman Nasional Komodo akan menjadikan pulau ini satu tempat selam terbaik didunia, saya yakin itu, dengan formasi karang yang mencapai 17 km dan macam keindahan faunanya akan memanjakan siapa saja yang melihatnya, ada banyak lokasi selam di Taman Nasional Komodo tapi yang paling terkenal ada 3, Pantai Merah, Gililawa dan Karang Makassar, tidak hanya menyelam anda juga bisa Snorkelling atau sekedar menikmati keindahan disekitar pesisir.
Taman Nasional Komodo juga terkenal sebagai salah satu tempat yang mempunyai arus tercepat didunia, ini alasannya ialah Pulau Komodo dan Pulau Rinca membentuk lintasan leher botol antara Samudera Pasifik dan Samudera hindia Selatan, selama pasang surut air akan mengalami pertukaran dan dipaksa mengalir melewati lintasan botol leher yang relatif sempit ini, yang menjadikan arusnya menjadi sangat cepat, namun bagi para penyelam ini justru tantangan yang mengasyikan.


DANAU KELIMUTU

Danau Kalimutu
Danau Kelimutu yang terletak di puncak Gunung Kelimutu ini masuk dalam rangkaian Taman Nasional Kelimutu. Danau ini berada di ketinggian 1.631 meter dari permukaan laut. Beberapa tumbuhan yang sanggup ditemui di sekitar danau antara lain Kesambi (Schleichera oleosa), Cemara (Casuarina equisetifolia) dan bunga abadi Edelweiss. Sedangkan fauna yang ada di sekitar danau, antara lain Rusa (Cervus timorensis), Babi hutan (Sus sp.), Ayam hutan (Gallus gallus) dan Elang (Elanus sp.)
Tiga Kubangan Danau Kalimutu

Danau Kalimutu
Danau Kelimutu mempunyai tiga kubangan raksasa. Masing-masing kubangan mempunyai warna air yang selalu berubah tiap tahunnya. Air di salah satu tiga kubangan berwarna merah dan sanggup menjadi hijau bau tanah serta merah hati; di kubangan lainnya berwarna hijau bau tanah menjadi hijau muda; dan di kubangan ketiga berwarna coklat kehitaman menjadi biru langit.
Secara adminitratif, Danau Kelimutu berada pada 3 kecamatan, yakni Kecamatan Detsuko, Kecamatan Wolowaru dan Kecamatan Ndona, ketiganya berada di bawah naungan Kabupaten Dati II Ende, Propinsi Nusa Tenggara Timur.
Dari ibukota Propinsi NTT, yakni Kupang, pengunjung sanggup memakai pesawat menuju kota Ende, di Pulau Flores, dengan waktu tempuh mencapai 40 menit. Setiba di Ende, perjalanan dilanjutkan dengan memakai angkutan umum berupa mini bus, menuju Desa Kaonara, yang berjarak 93 km, dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Dari Desa Koanara menuju Puncak Danau Kelimutu, wisatawan harus berjalan sepanjang 2,5 km.
Karena menjadi salah satu Objek Wisata andalan bagi pemerintah setempat, maka fasilitas di sekitar danau cukup diperhatikan. Terdapat pondok jaga, shelter berteduh untuk pengunjung, MCK, kapasitas lahan parkir yang bisa menampung sekitar 20 mobil, serta beberapa losmen kecil bagi para wisatawan yang hendak menginap.


KAMPUNG MEGALITIK BENA

Kampung Bena
BENA ialah nama sebuah perkampungan tradisional yang terletak di Desa Tiworiwu, Kecamatan Aimere, Ngada. Desa ini terletak di bawah kaki Gunung Inerie sekitar 13 km arah selatan Kota Bajawa. Perkampungan moral ini terkenal alasannya ialah keberadaan sejumlah bangunan megalitik yang dimiliki dan tata kehidupan masyarakatnya yang masih mempertahankan keaslian perkampungan tersebut. Kampung moral Bena terletak sempurna di lereng Bukit Inerie yang agak menonjol.
Model Rumah Di Kampung Bena
Warga setempat menyebut tempat ini mirip berada di atas kapal alasannya ialah bentuknya memanjang mirip perahu. Konon berdasarkan dongeng yang dipercaya secara turun temurun, pada zaman dahulu sebuah kapal besar pernah terdampar di atas lereng gunung itu. Kapal itu tidak bisa berlayar lagi dan terus terdampar hingga hasilnya air surut dan menjauh dari tempat itu.
Bangkai kapal kemudian membatu dan di atasnya kemudian digunakan masyarakat setempat sebagai lokasi perkampungan. Perkampungan Bena mempunyai daya tarik sendiri bagi para wisatawan alasannya ialah bangunan megalitik berupa susunan batu-batuan kuno. Tidak ada yang mengetahui secara niscaya siapa yang mendirikan bangunan megalitik tersebut, namun masyarakat setempat percaya kalau bebatuan tersebut disusun seorang diri oleh seorang lelaki perkasa berjulukan Dhake.
Menurut warga setempat, suatu waktu datanglah sekelompok orang dan membangun sebuah perkampungan di tempat tersebut yang kemudian diberi nama Bena. Uniknya, di antara mereka ada seorang lelaki berjulukan Dhake yang bertekad ingin membuat sebuah kampung yang agung dan indah. Maka timbulah gagasan dalam benaknya untuk merancang perkampungan itu dengan menyertakan batu-batu besar sebagai hiasannya.
Terdorong oleh gagasannya itu, ia kemudian pergi ke Pantai Aimere yang berjarak sekitar seratus kilometer dari perkampungan Bena. Dari sana ia mengambil batu-batu besar berbentuk lempengan panjang atau pun meruncing, kemudian dipikulnya hingga ke Bena. Batu- kerikil itu kemudian disusun sedemikian rupa, ada yang berdiri dan ada pula yang dibiarkan mendatar. Sususan batu-batu itulah yang ketika ini dikenal dengan megalit.
Para tamu yang berkunjung akan melihat dengan terang apa yang dimaksud dengan megalit itu. Bentuknya sederhana berupa susunan batu-batu yang teratur dan berada sempurna di tengah perkampungan. Pada kerikil megalit ini terlihat terang bekas telapak kaki yang diyakini masyarakat setempat ialah telapak kaki milik Dhake. Menurut cerita, pada ketika membangun kampung Bena ini, batu-batu yang dipikul Dhake dari Aimere, masih lembek dan tidak sekeras yang kini ada sehingga bekas tapak kaki Dhake nampak terang di atas batu. Para pengunjung yang tiba ke tempat ini akan menemukan jejeran rumah-rumah penduduk yang masih sangat tradisional dan terletak saling berhadapan.
Rumah-rumah moral yang sering disebut peo ini, terbuat dari papan berbentuk panggung, beratap alang-alang dipadukan dengan dinding bambu pada teras depan yang berukuran sekitar 10 kali 10 meter. Di cuilan tengah kampung terdapat monumen moral yang dibangun mirip lopo (madhu) dan sebuah rumah kecil yang disebut bhaga. Kedua bangunan ini oleh masyarakat setempat dianggap sebagai simbol pemersatu dari suku yang menempati perkampungan itu. Masyarakat setempat benar-benar bertekad untuk mempertahankan keaslian perkampungan tersebut. Semua rumah dibangun ibarat rumah moral dan tidak diizinkan membangun rumah dengan adonan yang bergaya modern.
Listrik pun tidak diizinkan sehingga untuk penerangan hanya digunakan lampu pelita. Hal ini sengaja dikondisikan untuk mempertahankan gambaran perkampungan moral tersebut sesuai sejarah pembangunannya. Masyarakat kampung Bena umumnya ramah terhadap pengunjung, dimana setiap pengunjung yang tiba niscaya disambut dengan senyuman, sebagai sapaan. Kita bisa bertanya-tanya ihwal budaya yang mereka miliki dan dengan sangat baik akan dijelaskan kepada kita perihal budaya setempat.


PANTAI NIHIWATU

Pantai Nihiwatu
Menghadap barat daya Samudera Hindia, Nihiwatu merupakan tempat ideal untuk menjemput ombak besar yang berasal dari ribuan mil. Banyak peselancar professional yang telah mengunjungi tempat ini selama bertahun-tahun bahkan beberapa film mengenai selancar juga dibentuk di tempat ini.

Ombak di tempat ini merupakan salah satu yang tercepat di mana pun. Tidak diragukan kalau Nihiwatu merupakan salah satu pantai dengan ombak terbaik di Indonesia dan bahkan dunia. Tak hanya berselancar, tempat ini juga memungkinkan dinikmati untuk aneka macam aktifitas mengasyikkan lain mirip mengendarai kuda di pantai, memancing, menyelam, mengamati burung, bersepeda gunung hingga trekking ke air terjun.


TAMAN LAUT PANTAR

Taman Laut Pantar
Keindahan dan keunikan alam bawah laut Selat Pantar sangat menakjubkan. Bahkan kalau dibandingkan dengan Taman Laut Komodo di NTT, Berau di Kalimantan Timur, Bunaken di Sulawesi Utara dan Raja Ampat di Papua, Selat Pantar masih tetap yang terbaik, meski selama ini untuk diving, taman laut Komodo, Bunaken, Berau, dan Raja Ampat lebih populer, tapi di mata para diver kelas dunia taman laut Selat Pantar yang terletak di Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur, lebih unggul alasannya ialah keindahannya yang menakjubkan. Konon terindah sehabis taman laut Kepulauan Karibia. Banyak wisatawan aneh yang pernah ke Alor terkagum-kagum. Sebab, selain dimanjakan keindahan taman lautnya, mereka juga menemukan fenomena taman laut tersebut langka dan sangat menarik. Makanya, masuk akal kalau wisata laut Alor dengan panorama bawah laut yang spefisik di Selat Pantar menjadi primadona dan pemikat bagi para diver kelas dunia dari Amerika, Australia, Austria, Inggris, Belgia, Belanda, Jerman, Kanada, Selandia Baru, dan beberapa negara di Asia.

Taman Bawah Laut
Tercatat, ada 26 titik diving yang memesona wisatawan di sana. Ke-26 titik diving itu yaitu, Half Moon Bay, Peter's Prize, Crocodile Rook, Cave Point, The Edge, Coral Clitts, Baeylon, The Arch, Fallt Line, The Pacth, Nite Delht, Kal's Dream, The Ball, Trip Top, The Mlai Hall, No Man's Land, The Chatedral, School's Ut, dan Shark Close.
Titik diving yang terakhir ini sangat menarik alasannya ialah merupakan kumpulan ikan hiu dasar laut yang sangat erat dengan para diver. Keindahan bawah laut yang terdapat di Alor Besar, Alor Kecil, Dulolong, Pulau Buaya, Pulau Kepa, Pulau Ternate, Pulau Pantar, dan Pulau Pura, juga mengundang decak kagum para diver profesional dari Jakarta dan Bali untuk tiba ke sana.
Bahkan, para diver kelas dunia mengakui, bahwa daerah taman laut Alor merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Tengok saja ratifikasi Ken Parker dari Amerika Serikat, More big fish, prolific swarming masses of schools than anywhere I've seen in 20 years of diving.
Atau dengarkan penuturan Adrienne May dari Australia. "Enjoyed seeing the Manta Rays, Sharks, Turtles, Dolphins, Whales and that huge Napoleon Wrasse." Bahkan, Michael AW fotografer asal Singapura berkata, A World class diving!... Kal's Dream is to be dived again and again and again.... of all my underwater sojourns, Alor is among the best!. Begitu juga pernyataan Helen Roberts dari Inggris, We saw hue Sunfish, Reef Sharks, Turtles, Moray Eels, Rays, Naopoleon Wrase, Dog-tooth Tuna, Barracuda and loads of beautiful Reef Fish all in just three dives.
Ikan Lumba-lumba di Laut Pantar
Selain potensi wisata bahari, Alor juga menyimpan sejumlah Objek Wisata yang mempunyai daya tarik secara kultural dan historis yang jarang dijamah dan dikunjungi baik oleh penduduk setempat maupun oleh wisatawan. Meski mempunyai aksebilitas amat terbatas, tapi bagi para pencinta petualangan alam justru menjadi tantangan dan keunikan.
Salah satunya, alquran bau tanah dari kulit kayu yang ditulis dengan tinta ramuan tradisional yang diperkirakan berusia lebih dari 800 tahun, sebuah bukti sejarah ihwal keberadaan Islam di Alor. Daya pemikat lainnya yaitu kampung Takpala, sebuah desa tradisional yang dihuni oleh suku Abui dengan pola perkampungan linear dengan deretan rumah adat.
Masyarakatnya yang masih memegang teguh moral dan tradisi akan mempertontonkan atraksi budayanya yang khas dalam menyambut para pelancong, membuat nama desa ini melambung hingga ke mancanegara.
Bagi pendaki gunung yang menggilai tantangan di tempat yang masih perawan, Gunung Delaki Sirung di Pulau Pantar dan Gunung Koya-Koya di Pulau Alor, ialah tempatnya. Kepenatan yang melelahkan itu segera sirna membawa kesegaran dan kesegaran jiwa sehabis menyaksikan fenomena geologi vulkanik di Desa Air Panas dan Air Terjun di Pulau Pantar, taman wisata alam Tuti Adagae di Pulau Alor.
Sementara ranch mini peternakan rusa (terbaik di daerah timur Indonesia) jangan dilewatkan untuk dikunjungi. Kesejukan dan kesegaran di alam Hutan Nostalgia juga akan menyapa setiap pengunjung yang ingin melepas kepenatan.
Sebelum beranjak kembali pulang, jangan lupa menanam pohon di Hutan Nostalgia sebagai tanda Anda pernah mengunjungi Pulau Alor. Nama dan alamat Anda akan diabadikan pada pohon yang ditanam dan dikenang sepanjang masa.


PANTAI LASIANA

Pantai  Lansiana
Pantai Lasiana mulai dibuka untuk umum sekitar tahun 1970-an. Sejak Dinas Pariwisata NTT memoles dengan membangun aneka macam fasilitas pada tahun 1986, Pantai Lasiana ramai dikunjungi turis asing. Sesuai rencana pengembangan Pemkot Kupang, Pantai Lasiana akan dijadikan Taman Budaya Flobamora, yakni sebutan yang mengacu pada keseluruhan suku bangsa di dekat Pantai Lasiana, antara lain, Flores, Sumba, Timor dan Alor.

Pantai Lansiana
Di pantai Lasiana ini banyak didapati lopo-lopo yang berderet. Lopo-lopo ialah sebutan lokal untuk pondok yang dibangun ibarat payung dengan tiang dari batang pohon kelapa atau kayu dan beratapkan ijuk, pelepah kelapa atau lontar, dan alang-alang. Bisa juga beratapkan seng yang cuilan luarnya dilapisi ijuk, pelepah kelapa atau lontar dan alang-alang.
Pantai nan landai sekitar 3,5 hektar atau tepatnya 35.065 persegi ini, berudara sejuk alasannya ialah dinaungi 65 pohon kelapa dan 230 pohon lontar bau tanah yang hingga kini masih produktif. Pantainya berpasir putih halus, lautnya biru, airnya jernih dengan debur ombak yang bergulung-gulung kecil, tenang. Keindahan pantai ini bukan alasannya ialah fasilitas buatan, tetapi lebih alasannya ialah abjad alamnya.
Pantai Lasiana mempunyai topografi menarik, pada cuilan barat terdapat perbukitan, sehingga keseluruhan daerah ini mempunyai variasi unik, yaitu perpaduan antara perbukitan dan pantai.
Lokasi :Pantai ini terletak di Kecamatan Kupang Tengah, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Akses Menuju Lokasi Pantai Lasiana berjarak 12 Km dari sentra kota Kupang. Umumnya, pengunjung tiba memakai angkutan umum, atau dengan kendaraan pribadi. Untuk angkutan umum pengunjung sanggup naik jenis kendaraan colt, dengan biaya Rp. 5000.
Di pantai ini terdapat satu bangunan kios percontohan, tiga kios komersial, dua kios cinderamata, empat kamar mandi basuh dan kakus (MCK), satu kolam renang dan instalasi air, satu kantor pengelola, satu panggung hiburan rakyat, dan tiga unit home stay. Umumnya para pedagang berjualan mulai Sabtu sore, sepanjang hari Minggu dan hari libur lainnya. Selain menyediakan minuman dan makanan ringan, pedagang kecil di sekitar pantai juga menjajakan kelapa muda, jagung muda bakar dan pisang gepe.


PANTAI KOLBANO

Pantai Kolbano Dengan Pasir Batu Yang Putih

Pantai Kolbano
Bagi kebanyakan wisatawan mengunjungi pesisir pantai yang dipenuhi hamparan pasir putih atau pasir hitam merupakan hal biasa yang sanggup kita lihat, namun bagaimana dengan pesisir pantai yang dipenuhi hamparan kerikil berwarna-warni yang sangat indah dan unik, bisa jadi menjadi pemandangan gres bagi Anda. Ini bisa Anda lihat dan rasakan hanya di sepanjang pesisir Pantai Kolbano.
Pantai Kolbano terletak di Desa Kolbano, Kecamatan Kolbano, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pantai Kolbano terkenal dengan kerikil warnanya. Batu warna di pesisir Pantai Kolbano ini, mempunyai bermacam ragam bentuk dan warna. Ada yang berwarna merah, hijau, kuning, hitam, bahkan kerikil yang bercorak pun ada. Juga ada kerikil yang mempunyai tiga warna (merah, hitam dan krem).


AIR TERJUN OENESU

Air Terjun Oenesu
Menyebut Oenesu bagi orang Kupang berarti memperlihatkan bersantai di suasana segar. Sebagai salah satu dari sedikit riam yang ada di Kupang, tempat wisata riam Oenesu menjadi pemberhentian sejenak bagi warga Kupang mereguknya segarnya hawa yang ditawarkan tempat ini.
Perhatikan, pada hari Sabtu atau Minggu maka rombongan muda-mudi atau keluarga banyak yang mendatangi tempat ini. Lokasi ini berjarak kurang lebih 17 km dari Kupang dan jalan menuju tempat ini cukup baik. Aku sendiri tidak mengalami dilema sama sekali memakai sedan ke tempat ini. Memang sempat muncul kekuatiran terutama adanya satu jembatan kayu yang harus dilewati untuk hingga ke lokasi ini.
Justru yang belum mendapatkan perhatian yang cukup dari pengelola tempat ini ialah kondisi jalan dan penataan di lokasi wisata ini. Jalan yang masih berupa jalan tanah berbatu-batu serta tidak adanya tempat parkir kadang membuat tempat ini tampak semrawut dengan kendaraan beroda empat dan motor yang diparkir semaunya.


Begitu hingga di lokasi maka anda akan disambut dengan genangan air yang merupakan cuilan atas air terjun. Debit riam ini cukup stabil, pada animo kering sekalipun debit air masih tidak mengecewakan sanggup dinikmati. Foto-foto di atas diambil pada bulan Oktober, masuk bulan-bulan yang kering dan panas yang menyengat.
Debit pada animo hujan tentu akan lebih besar, mungkin bisa dua kali lipat di banding animo panas. Pada ketika itu kalau kita sempurna di bawah riam bunyi deru riam seakan menenggelamkan bunyi kita sendiri. Jangan heran kalau kita sering mendengar teriakan-teriakan dan bunyi tertawa yang cukup dari pengunjung yang menikmati riam ini.
Sampai di lokasi, ada dua jalur yang sanggup digunakan untuk turun menikmati riam ini. Sebelah kiri lokasi terdapat jalan menurun yang cukup terjal yang akan membawa anda ke sebuah jembatan jauh di bawah riam utama. Dari jembatan yang masih gres ini (saat goresan pena ini dibuat), anda bisa melihat beberapa tingkat air terjun.
Jalur lain sanggup anda coba melalui jembatan kayu. Jembatan ini bergotong-royong cukup membahayakan terutama untuk belum dewasa alasannya ialah kayu tidak terpasang menutup semua ruasnya. Jika tidak hati-hati anda sanggup terperosok. Jaga belum dewasa anda sewaktu melewati jembatan ini. Setelah itu anda harus menuruni anak tangga yang lagi-lagi curam, itupun kondisi anak tangganya tidak rata. Ini juga saya ingatkan kembali pada anda untuk berhati-hati.
Membawa bekal waktu turun sangat disarankan alasannya ialah naik turun untuk mengambil makanan ke atas sangat melelahkan. Namun sesampai di bawah, pemandangan riam seakan membilas rasa penat anda. Jangan takut batuan di tempat ini tidak licin, alasannya ialah airnya yang mengandung kapur cukup tinggi (ciri khas air di Kupang) maka kerikil jadi terasa kesat. Suasana yang rindang alasannya ialah banyak pohon-pohon besar tumbuh di sekitar air terjun. Ini masih ditambah dengan suitan-suitan burung yang sering terdengar nyaring dari balik pepohonan. Anda bisa eksklusif menentukan berendam di salah satu anakan riam atau menentukan menelusuri ke bawah. Gerak tarian riam membentuk alur-alur yang unik, hati-hati alasannya ialah beberapa cekungan tingkat air ini ada yang dalam.
Andapun bisa sekedar membentangkan tikar dan bermalas-malasan menikmati sejuknya hawa serta deru bunyi air terjun. Keriangan bunyi pengunjung seakan mengajak anda ikut riang.


PANTAI NEMBRALA

Pulau Nembrala
Surfing Di Pulau Nembrala

Ombang Di Pulau Nembrala
Bo’a di Kec. Rote,Obyek wisata ini sudah cukup dikenal bukan saja wisatawan asal Negara Kanguru (Australia ) tapi juga dikenal secara luas oleh para wisatawan Amerika, Eropa dan sebagainya Jarak tempuh dari ibu kota Ba’a + 30 Km dengan memakai Bus atau Mikrolet yang cukup nyaman serta ditopang dengan kondisi jalan yang cukup memadai.
Panorama dan keistimewaan pantai Nemberala – Bo’a alasannya ialah gelombang laut atau dikenal dengan “Gelombang” yang sangat cocok untuk para wisatawan melaksanakan olah raga Surfing (selancar) pecahannya ke kanan yang Barat Daya, pantai ini sangat dikenal dengan pasir putih yang indah dan menawan serta ombaknya sangat anggun dan menarik dengan 8 kali gulungan merupakan tantangan bagi peselancar dunia. Pemerintah Daerah Rote Ndao berhubungan dengan organisasi Bali melaksanakan lomba selancar bertaraf internasional yang dilaksanakan pada bulan September – Oktober setiap tahunnya.
Desa wisata Nembrala. Desa ini memperlihatkan pemandangan pantai, rimbunan pohon kelapa yang menjulang tinggi dengan daunnya yang meneduhkan. Benar-benar memanjakan mata yang memandang.Desa yang terletak di Kecamatan Barat Daya Rote, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur tersebut kolam surga wisata yang tersembunyi. Jauh dari hiruk pikuk kota dengan kesederhanaan dan keramahan penduduk sekitar. Di sekitar pantai Nembrala, ada beberapa pilihan penginapan, mulai dari hotel hingga homestay dengan tarif puluhan ribu rupiah hingga ratusan ribu rupiah per malam. Tetapi, saya menentukan untuk menghabiskan waktu beberapa jam saja untuk sekadar duduk-duduk di bibir pantai.
Pemandangan sekitar pantai masih tergolong alami, yakni rumah-rumah tradisional penduduk yang sebagian masih memakai bebak (kayu dari pohon lontar) dengan atap alang-alang. Semakin menambah nilai keindahan di sekitar pantai Nembrala saja.


BATU TERMANU

Batu termanu
Batu Termanu
Ada dua Batu Termanu yaitu : Batu Hun dan Batu Suelay, merupakan obyek wisata alam yang sangat memukau. Setiap perkunjungan wisatawan yang tiba ke Kabupaten Rote Ndao. Ketika kapal motor keluar dari pelabuhan Bolok Kupang yang melewati selat Pukuafu dan yang pertama terlihat ialah Batu Termanu yang menjulang tinggi.
Disekitar perairan Batu Hun dijadikan obyek wisata Menyelan dan Memancing alasannya ialah terdapat terumbu karang Mutiara dan ikan kerapu yang cukup banyak. Batu termanu berdasarkan legenda masyarakat Rote terdiri atas dua buah yaitu yang satunya ialah jenis Pria berada eksklusif di pinggir pantai leli dan satu lainnya jenis perempuan terletak beberapa ratus meter sebela kanan kerikil laki-laki terletak agak kedalam laut.
Dikatakan pula bahwa kerikil Termanu ialah kerikil yang bisa berpindah - pindah tempat dan berasal dari maluku. Suatu ketika kerikil ini tiba di Rote dan menetap disana, alasannya ialah keadaannya mirip itu maka oleh orang Rote di anggap sebagai Batu Keramat dimana pada ketika tertentu para bau tanah – bau tanah moral sering berdoa dikaki kerikil untuk memohon turunnya hujan.

Sumber  : www. nttprov.go.id

Sumber http://daerahwisata-indonesia.blogspot.com/

Jangan sampai ketinggalan postingan-postingan terbaik dari Tempat Wisata Yang Ada Di Indonesia: Objek Wisata Di Nusa Tenggara Timur. Berlangganan melalui email sekarang juga:

Bali Attractions

BACA JUGA LAINNYA:

0 Response to "Tempat Wisata Yang Ada Di Indonesia: Objek Wisata Di Nusa Tenggara Timur"

Post a Comment

Bali Attractions