Tempat Wisata Tradisi Upacara Perkawinan Budbahasa Manggarai Nusa Tenggara Timur

Tradisi Upacara perkawinan Adat Manggarai Nusa Tenggara Timur Tempat Wisata Tradisi Upacara perkawinan Adat Manggarai Nusa Tenggara Timur
Tradisi Upacara perkawinan Adat Manggarai Nusa Tenggara Timur  Tradisi Upacara perkawinan Adat Manggarai Nusa Tenggara Timur Tempat Wisata Tradisi Upacara perkawinan Adat Manggarai Nusa Tenggara Timur

Manggarai sebuah kabupaten di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia
Penduduk orisinil Manggarai berjulukan orang Ru’a, yakni penduduk orisinil keturunan Pongkor yang leluhurnya berjulukan Rutu dan anaknya berjulukan Okong. Di samping itu, disinyalir ada juga suku pendatang dari Minangkabau (Bonengkabo), Sumba, Ende. (Lawang: 1999, Jehaun: 2002).

Banyak sopan santun istiadat budaya peninggalan daripada suku Manggarai  diantaranya yaitu sopan santun istiadat perkawinan:

Dasar perkawinan sopan santun Manggarai yaitu cinta laki-laki dan perempuan yang ingin dilembagakan dalam sebuah institusi yang berjulukan keluarga. Dalam beberapa ungkapan digambarkan bagaimana seorang laki-laki memperjuangkan cintanya untuk memperoleh si jantung hati; wa’a wae toe lelo, lama mela toe kira (demi cinta, banjirpun tak dihiraukan, hujan pembawa penyakitpun diacuhkan); bahkan demi cinta, sotor wae botol agu ata mbeko (meminta tunjangan dukun untuk menggaet gadis impian).

Tujuan perkawinan sopan santun Manggarai terungkap lewat beberap ungkapan; pertama, kudut beka weki one-beka salang pe’ang, artinya untuk mendapat keturunan. Anak dilihat sebagai pelanjut subsistensi keluarga yang terungkap lewat pernyataan, eme wakak betong asa-manga waken nipu tae, eme muntung pu’u gurung-manga wungkutn te ludung ( Bambu bau tanah mesti mati, mesti diganti dengan bambu tunas-tunas muda).

Dalam upacara Nempung atau Wagal (peresmian ijab kabul secara adat), terungkap doa begini: “ ra’ok lobo sapo-renek lobo kecep, borek cala bocel-ta’i cala wa’i” (duduk berhimpun di atas tungku api, uduk berderet-deret bagai tutupan periuk, membuang air besar mengenai betis-buang air besar mengenai kaki). Artinya, doa meminta keturunan. Kedua, perkawinan sopan santun juga bertujuan untuk menambah keeratan jalinan kekerabatan antar keluarga besar. Ketiga, perkawinan bertujuan untuk kebahagiaan pasangan yang menikah itu. Itu tersembul dari pernyataan, kudut ita le mose di’as ise wina-rona (agar suami istri hidup sejahtera). Sifat perkawinan sopan santun Manggarai terungkap oleh ungkapan, acer nao-wase wunut (tak terpisahkan) dan wina rona paka cawi neho wuas-dole neho ajos (perkawinan itu menyatukan secara abadi).

Budaya Belis dan paca

Belis/ paca itu merupakan seperangkat mas kawin yang diberikan oleh anak rona ( keluarga mempelai laki-laki) kepada anak wina (keluarga mempelai perempuan) yang biasanya berdasarkan atas kesepakatan pada dikala pongo (ikat). Yang dimaksud seperangkat mas kawin di sini yaitu seng agu paca (seng = uang; paca = binatang berupa kerbau dan kuda).

Dalam bahasa sopan santun perkawinan Manggarai, uang biasa disebut dengan menggunakan term kiasan mirip kala (daun sirih), one cikang (dalam saku), one mbaru (dalam rumah); sedangkan untuk binatang disebut dengan menggunakan term kiasan mirip peang tana (di luar rumah). Semua pembicaraan yang berkaitan dengan jumlah belis yang harus diberikan oleh pihak laki-laki terhadap pihak keluarga perempuan dibicarakan pada dikala pongo. Ketika itu terjadi proses tawar menawar antara tongka (juru bicara) dari pihak anak rona dan anak wina perihal jumlah belis. Mempelai perempuan memperlihatkan patokan belis yang harus ditanggapi oleh keluarga mempelai laki-laki berupa tawar-menawar sebelum adanya keputusan final. Kadang tidak ditemukanya kesepakatan dan apabila kesepakatan tidak ditemukan, maka program itu ditunda lagi.

Setelah semuanya mencapai kesepakatan, ada waktu yang telah ditentukan untuk menyerahkan mas kawin itu pada dikala program sopan santun yang disebut coga seng agu paca . Di mana semua hal menyangkut mas kawin yang telah dibicarakan dan diputuskan bersama (pada tahap perkawinan sebelumnya yaitu pada dikala pongo) akan diserahkan oleh pihak laki-laki kepada keluarga perempuan. Adat coga seng agu paca merupakan inti/ puncak sebagai bukti tanggung jawab keluarga laki-laki dalam melunasi belis kepada keluarga perempuan. Momen inilah yang menjadi tolok ukur hingga sejauh manakah kesiapan, kemampuan kelurga mempelai laki-laki dalam urusan perkawinan itu.

Mengapa belis atau “Paca” harus “dibayarkan” dalam ijab kabul sopan santun Manggarai? Pertama-tama belis atau “paca” bukan hanya suatu penetapan melainkan suatu pengukuhan kehidupan suami istri. Ada sua unsur pokok: anak rona (penerima mas kawin) dan anak wina (pemberi mas kawin). Telah dikatakan bahwa filosofi dasarnya yaitu “salang wae teku tedeng” (jalan mata air) dan bukan “salang tuak” (jalan tuak enau). Itu berarti kekerabatan perkawinan yang akan dibuat bukan hanya sesuatu yang bersifat temporal saja (untuk sementara waktu), melainkan kekerabatan perkawinan itu akan berdampak pada suatu korelasi “woe nelu” atau kekerabatan yang berkelanjutan hingga pada generasi-generasi berikutnya. Belis menjadi semacam “tunggakan” yang menjadi kewajiban pihak “anak wina” kepada “pihak anak wina.” Filosofi lain yang tersembul dalam ungkapan “le Mbau teno” artinya, belis atau paca akan diberikan kepada pihak yang berhak menerimanya (anak rona) sembari menanti hasi kerja suami istri. Jika terjadi “sida” (permintaan sejumlah uang atau hewan) kepada pihak anak rona, maka itu harus berdasarkan “momang” atau belaskasih si pihak pemberi belis (anak wina). Hal itu terungkap dalam peribahasa, “pase sapu-selek kope, weda rewa-tuke mbaru.” Pemberian pihak “anak rona” kepada “anak wina” berasal dari suatu konsolodasi internal keluarga mereka untuk meenanggung usul “anak wina” itu.

Formulasi usul belis dalam upacara “Umber” sebelum pelantikan sopan santun misalnya; 2 ekor kerbau ditambah dengan 5 ekor kuda serta uang 40 juta. Misalnya disanggupi secara tertentu dalam; 1 ekor kerbau, 2 ekor kuda dan 1 ekor kerbau (kaba ute/ khusus untuk dimakan “lebong”). Biasanya usul yang tertugn sebagai “paca atau belis” harus disanggupi pada dikala pengakuan perkawinan adat, yakni dikala “Nempung” atau “wagal.” Namun sekalai lagi pada dikala itu bukan suatu sistem “bayar tuntas” alasannya yaitu merujuk pada filosofi “wae teku tedeng” atau mata air abadi. Bagi pasangan yang dikukuhkan dalam pengukuhan sopan santun dikenakan peribahasa: “du pa’ang le mai-cako agu reha lesak penong pa’ang.” (suatu pesta meriah yang melibatkan seluruh kampung). Si perempuan disanjung-sanjung dengan ritual “sendeng atau sompo.” Terbersit bahwa dalam upacara ini ada penghargaan terhadap martabat perempuan dan keluarganya.

Jawaban atas usul belis ada dua: pertama, untuk menyatakan kesanggupan atas tuntutan sopan santun ada tuturan sopan santun sbb: “ho’o ca libo, dumpu ca sora mata, titut nggitu deng hitu, o hae gereng sala = hanya ada satu kolam kecil, kudapati satu udang kecil, terimalah dulu, sambil mencari yang lain kemudian.” Itu berarti belis merupakan suatu kelanjutan yang menandai korelasi kekerabatan “Woe-Nelu.” Belis bukan “beli mati” melainkan suatu budaya yang melanggengkan korelasi itu. “Sida” (tuntutan adat) dari pihak peminta belis secara berkelanjutan akan meminta respon dari pihak akseptor belis. Kedua, untuk memohon pengertian baik pihak perempuan alasannya yaitu si laki-laki tidak mampu; “eme hening laris lalo, retang nanggong du kakor lalong. Eme nuk laris kasi asi, one ritak laing, momang koe, cala di’a diang, baeng koe, cala jari tai.” Intinya memohon pengetian baik dari pihak perempuan biar tuntutan sopan santun diperlunak mengingat hidup bukan hanya hari ini, mungkin besok keluarga ini akan menjadi baik.

Filosofis perkawinan Adat Manggarai 

Nilai-nilai filosofis perkawinan sopan santun Manggarai sanggup digambarkan dalam beberapa ungkapan berikut:

1. perkawinan mengungkapkan kebutuhan dasar insan untuk berada bersama dengan Yang Lain dalam suatu ranah kehidupan yang sejahtera, subur dan berkembang, mirip ungkapan “saung bembang ngger eta, wake seler ngger wa”.

2 perkawinan bertujuan biar insan sanggup melanjutkan subsistensi dirinya lewat keturunan. Seperti suatu ungkapan seorang suami, “wua raci tuke, lebo kala ako” (: istriku sudah hamil).

3 perkawinan membuka sosialitas insan biar terhubung dengan Orang Lain dan kelompok lain sehingga terjalinlah suatu kekeluargaan dan persaudaraan insan mirip ungkapan “cimar neho rimang, cama rimang rana, kimpur kiwung cama lopo (persaudaraan itu menyerupai lidi yang tak gampang dipatahkan, besar lengan berkuasa mirip batang enau)”

4perkawinan merupakan ruang pembentukan keluarga yang nantinya akan menjadi ruang transimisi nilai budaya dan moral, mirip tanggung jawab dan jiwa besar. Itu tersembul dalam ungkapan “Nai nggalis tuka Ngengga (kearifan dan jiwa besar)” Atau ungkapan “Mese bekek, langkas nawa” (pribadi yang bertanggung jawab dan bermoral).

5.perkawinan mengakibatkan kebebasan insan terlembagan dalam suatu tatana moral dan etika, mirip menghargai perempuan yang sudah bersuami. Seperti ungkapan “lopan pado olo, morin musi mai (sudah ada yang punya).”

Dasar perkawinan sopan santun Manggarai yaitu cinta laki-laki dan perempuan yang ingin dilembagakan dalam sebuah institusi yang berjulukan keluarga. Dalam beberapa ungkapan digambarkan bagaimana seorang laki-laki memperjuangkan cintanya untuk memperoleh si jantung hati; wa’a wae toe lelo, lama mela toe kira (demi cinta, banjirpun tak dihiraukan, hujan pembawa penyakitpun diacuhkan); bahkan demi cinta, sotor wae botol agu ata mbeko (meminta tunjangan dukun untuk menggaet gadis impian).

Dalam keadatan Manggarai terdapat tiga jenis perkawinan yakni

Cangkang

Perkawinan di luar suku atau perkawinan antar suku. Dalam bahasa adanya dikatakan laki pe’ang atau wai pe’ang (anak perempuan yang kawin di luar suku). Orang yang laki pe’ang atau wai pe’ang membuka jalur korelasi gres dengan suku-suku lain. Dengan itu keluarga besar lebih lebar jangkauan korelasi woe nelu-nya. Dari praktek orang bau tanah tempo dulu, orang yang laki pe’ang bukan sembarang orang. Biasanya dari kalangan keluarga yang bisa membayar belis atau paca. Karena paca itu sendiri bukan cuma soal uang atau hewan, tetapi terutama soal harga diri dan martabat dari kedua belah pihak, antara keluarga laki-laki dan wanita.

Tungku

Perkawinan untuk mempertahankan korelasi woe nelu, korelasi anak rona dengan anak wina yang sudah terbentuk jawaban perkawinan cangkang. Laki-laiki dan perempuan yang kawin tungku disebut saja laki one dan wai leleng one.
Pemuda yang laki one sanggup berarti laki-laki yang kawin tungku, juga berarti perkawinan terjadi di dalam atau di sekitar kampung asalnya.
Demikian pula terhadap perempuan yang wai leleng one. Berbicara perihal paca untuk orang yang laki one dan wai leleng one tergantung pada jenis tungku.

Menurut sopan santun Manggarai ada beberapa jenis tungku :
- Tungku cu atau tungku dungka
Kawin antara anak laki-laki dari ibu kawin dengan anak perempuan dari saudara itu atau om.
- Tungku nereng nara
- Tungku anak de due
- Tungku canggot
- Tungku ulu atau tungku sa’i
- Tungku salang manga
- Tungku dondot

Cako

Perkawinan dalam suku sendiri. Biasanya anak laki-laki dari keturunan adik dan anak perempuan dari keturunan kakak. Disebut juga sebagai perkawinan cako cama tau. Perkawinan cako biasanya orang bau tanah mulai mencobanya pada lapisan ketiga atau lapisan keempat dalam daftar silsilah keluarga. Mengapa dikatakan mencoba? Karena berdasarkan sopan santun Manggarai, tidak semua perkawinan cako direstui mori agu ngaran. Orang Manggarai percaya bahwa Tuhan-lah yang memilih apakan perkawinan itu direstui atau tidak. Ada bukti bahwa perkawinan cako tidak direstui, bahwa kedua insan yang menikah itu mati pada usia muda sebelum memperoleh anak.
Perkawinan cako cama salang artinya perkawinan yang dilangsungkan dengan sesama anak wina. Dalam konteks ini belis tidak dituntut sesuai dengan kemampuan kita. Berlaku ungkapan tama beka salang agu beka weki.


  Dalam perkawinan sopan santun Manggarai kita mengenal tahapan-tahapan sebagai berikut:

Pra Peminangan

Dalam tahap prapeminangan ini dikenal dengan istilah sebagai berikut:

 Watang

            Watang artinya jembatan, pengantara, penghubung. Dalam hal mencari jodoh/mencari tulang rusuk/mencari istri (kawe toko racap/kawe wina), maka istilah watang diartikan sebagai pengantara/penghubung cinta antara laki-laki dan wanita. Tugas watang ialah mengantar si laki-laki ke rumah perempuan/gadis yang akan dilamar. Tugas watang merupakan gerakan spontanitas secara pribadi atas dasar kebetulan bahwa seorang teman atau teman perlu dibantu dalam hal kawe toko racap (mencari istri/mencari tulang rusuk/mencari pendamping hidup).
            Watang melaksanakan agresi mencari jodoh biasa dijuluki “watang karong salang” (pengantara yang memperlihatkan jalan). Dengan kata lain si watang perlu mengetahui secara baik dan terang latar belakang kehidupan kedua belah pihak apa mungkin bisa dipertemukan atau tidak bisa. Watang memperkenalkan latar belakang secara garis besarnya saja. Setelah itu barulah melaksanakan kiprah karong salang (menunjukkan jalan/mengantar eksklusif ke rumah orang bau tanah perempuan).

 Watang Karong Salang

            Kemudian tibalah saatnya watang berperan sebagai watang karong salang (mengantar laki-laki eksklusif ke rumah orang bau tanah perempuan). Ada dua kemungkinan yang akan dialami oleh watang antara lain:
a.      Ketika perjumpaan pertama bahwa si keluarga perempuan ada gejala saling simpati (manga belut one nai) kemudian diadakan akad tiba lagi untuk tuke mbaru (masuk ke dalam rumah). Tuke mbaru arti budayanya ialah peminangan pertama.
b.     Kalau dikala karong salang (tunjuk jalan) tak ada gejala simpati (toe manga belut one nai) maka dikala itu hanya cerita-cerita biasa dan si laki-laki dianggap tamu. Kaprikornus boleh pulang atau boleh nginap dan besok pagi kembali ke rumahnya mirip biasa.

Tahap Peminangan perkawinan

Tuke mbaru

            Tuke mbaru (tuke: naik, masuk,  mbaru: rumah). Tuke mbaru artinya masuk ke dalam rumah. Kata tuke mbaru lazim digunakan oleh orang Manggarai dalam percakapan sehari-hari. Tuke mbaru artinya pergi melamar perempuan. Adapun citra dari tuke mbaru yaitu tiba beberapa orang dari keluarga laki-laki sebagai pelamar beserta tongka (juru bicara keluarga). Pihak keluarga perempuan sebagai pihak yang dilamar juga berkumpul di rumah orang bau tanah kandung perempuan dan secara resmi mendapatkan kehadiran keluarga laki-laki yang melamarnya.
            Inti daripada pembicaraan yaitu tukar cincin (paluk kila). Kehadiran pertama waktu peminangan resmi ini disebut dalam kiasan Manggarai ialah “weda lewang tuke mbaru” (injak pintu gerbang kampung dan naik ke dalam rumah).
            Dalam program resmi ini pembicara dari kedua belah pihak disebut tongka (juru bicara). Tongka ini sungguh-sungguh menggunakan sopan santun perkawinan Manggarai. Dalam pembicara tongka menggunakan kata “kala” (uang). Misalnya 10 juta rupiah (cempulu kala).

 Paluk kila

            Paluk kila (paluk: tukar,  kila: cincin). Paluk kila artinya tukar cincin. Acara tukar cincin ini dilakukan waktu peminangan awal secara resmi antara laki-laki dan perempuan yang disaksikan oleh kedua belah pihak keluarga besar. Prosedurnya bahwa tukar cincin dilaksanakan bila peminangan itu diterima. Pada waktu tukar cincin, ditunjuklah beberapa solusi (pihak ketiga) untuk menyaksikan bahwa antara perempuan yang dilamar dengan laki-laki sebagai pelamar saling menyatakan suka sama suka (saling jatuh cinta).
            Adapun pemahaman tukar cincin yakni dari perempuan yang menyiapkan cincin, yang selanjutnya dikenakan pada jari manis laki-laki. Sedangkan dari pihak laki-laki menyiapkan uang secukupnya untuk diberikan kepada perempuan yang dilamar itu dan uang tersebut sebagai ganti cincin laki-laki. Biasanya program tukar cincin eksklusif dilanjutkan dengan program pongo (ikatan) tetapi semua tergantung musyawarah dari kedua belah pihak.

Pongo
            Pongo (ikatan, mengikat), ada ucapan dalam bahasa Manggarai “ngo pongo ine wai” (pergi ikat perempuan), artinya mengadakan ikatan cinta antara perempuan dan laki-laki lazimnya bila sudah diadakan program pongo, maka status korelasi laki-laki dengan perempuan berada pada masa tunangan.
            Agar ikatan itu besar lengan berkuasa dan resmi secara sopan santun maka pihak keluarga laki-laki menyerahkan seng pongo (uang ikatan). Jumlah uang ikatan tergantung kesepakatan dari kedua keluarga dengan mediator tongka. Pongo juga menciptakan laki-laki dan perempuan saling setia satu sama lain dilarang mendapatkan orang lain. Setelah itu ada keputusan terakhir dari pembicaraan sopan santun yang disebut dengan istilah “kempu”.
      Setelah pongo, ada keputusan terakhir (kempu) maka ada reke kawing (reke: janji, kawing: nikah, kawin). Rencana penentuan tanggal berlangsungnya perkawinan/pernikahan. Kawing yaitu ijab kabul antara kedua mempelai sebagai suami dan istri yang dikukuhkan/direstui oleh kedua keluarga dan kerabat.

Wagal

            Wagal ialah puncak pengukuhan sopan santun perkawinan yang terakhir. Jika persiapan keluarga anak wina tidak cukup hingga program wagal, biarlah program wagal ditangguhkan sambil mencari waktu yang sempurna untuk program tersebut. Biasanya hingga 1 atau 2 tahun tergantung kesepakatan dan kemampuan anak wina.
            Keistimewaan perkawinan eksklusif wagal berarti mempelai perempuan eksklusif diantar secara resmi ke keluarga laki-laki (suami). Tetapi bila hanya hingga (ngo kawing kole kawing) maka mempelai perempuan tetap tinggal dengan orang bau tanah kandungnya sambil keluarga laki-laki membereskan program wagal.
            Waktu program wagal ada satu program disebut tudak ela (untuk yang nasrani) penyerahan keluarga orang bau tanah sebagai pemberi istri kepada keluarga laki-laki sebagai akseptor istri.

 Podo

            Podo (antar) yaitu mengantar mempelai perempuan bersama mempelai laki-laki ke kampung suami/keluarga suami. Orang yang ikut program podo tidak usah terlalu banyak cukup keluarga dan kerabat erat yang diutus saja. Podo, disini tongka tidak perlu ikut, alasannya yaitu tidak ada lagi pembicaraan adat. Hanya ada seng “leke tetak” dari anak wina. Seng leke tetak berarti biaya keringat keluarga pemberi istri yang pergi program podo. Tadu lopa artinya berarti menutupi kotak/peti kosong yang masih terbuka sebagai daerah taruh uang waktu program adat.

Gerep ruha

            Gerep ruha (gerep: injak; menginjak  ruha: telur). Gerep ruha yaitu menginjak telur ayam oleh mempelai perempuan dikala pergi dan masuk pertama kali ke kampung suami. Telur yang disiapkan yaitu telur ayam kampung. Adapun sekilas prosesi program gerep ruha yaitu sebagai berikut: dikala mempelai perempuan dan mempelai laki-laki beserta rombongan keluarga kerabat memasuki pintu gerbang kampung  (lewang beo), sebagian keluarga kerabat laki-laki menunggu di kampung, dan sebagiannya lagi menunggu di rumah sopan santun sambil main gong (tebang nggong). Mempelai dan rombongan diantar dengan rapih dan berbaris sambil melagukan lagu-lagu sopan santun Manggarai. Setelah injak telur, kedua mempelai masuk kemudian duduk di tikar (loce) dan bantal kaki (tange wai). Kedatangan perlu disyukuri oleh keluarga pengantin laki-laki dengan seekor ayam putih (ca manuk lalong bakok). Dalam  artian  keluarga mendapatkan pengantin perempuan dengan hati yang bersih. Dan darah ayam dioles pada ibu jari mempelai perempuan. Setelah semua program dibuat, semua keluarga boleh minum kopi, makan kue, minum tuak dan ibu-ibu makan siri pinang.
            Ini yaitu tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh kedua mempelai dan kedua keluarga besar biar tidak ada halangan dan rintangan dalam membina rumah tangga gres di kemudian hari. Aman, sehat walafiat dan memiliki keturunan/anak.

Demikian Tradisi Upacara perkawinan Adat Manggarai Nusa Tenggara Timur

Sumber https://www.senibudayawisata.com/

Jangan sampai ketinggalan postingan-postingan terbaik dari Tempat Wisata Tradisi Upacara Perkawinan Budbahasa Manggarai Nusa Tenggara Timur. Berlangganan melalui email sekarang juga:

Bali Attractions

BACA JUGA LAINNYA:

0 Response to "Tempat Wisata Tradisi Upacara Perkawinan Budbahasa Manggarai Nusa Tenggara Timur"

Post a Comment

Bali Attractions