Tempat Wisata Tradisi Upacara Perkawinan Etika Suku Palembang Sumatera Selatan

Tradisi Upacara perkawinan Adat Suku Palembang Sumatera Selatan Tempat Wisata Tradisi Upacara perkawinan Adat Suku Palembang Sumatera Selatan
Tradisi Upacara perkawinan Adat Suku Palembang Sumatera Selatan  Tradisi Upacara perkawinan Adat Suku Palembang Sumatera Selatan Tempat Wisata Tradisi Upacara perkawinan Adat Suku Palembang Sumatera Selatan

Penduduk masyarakat Suku palembang di Sumatera Selatan mempunyai budaya budbahasa istiadat upacara perkawinan/ pernikahan tradisi yang unik yang dipertahankan sampai sekarang.

Konsep prosesi pernikahan Tradisi Upacara perkawinan Adat Suku Palembang Sumatera Selatan
mempunyai makna religi sangat kental  dalam suku Palembang. Hampir di setiap tahapan mengandung pengharapan dan doa.

Prosesi perkawinan sampai barang hantaran juga punya makna mendalam, terkait dengan kehidupan rumah tangga, etika, serta kewajiban dan hak suami-istri.

Nilai budaya yang diyakini sanggup membawa biduk rumah tangga bahagia, tergambar dalam setiap gerak dan tahapan prosesi. Calon pengantin perempuan pun harus berguru tari, untuk persembahan kepada pasangannya sebagai tahap simpulan prosesi.

Paduan budaya inilah yang menciptakan prosesi pernikahan khas Palembang menjadi unik dan menarik, ditambah lagi imbas Cina, Arab, dan juga Hindu yang memperkaya budbahasa istiadat dan busananya

Adat perkawinan Palembang  mewariskan keagungan serta kejayaan raja-raja dinasti Sriwijaya yang mengalami masa keemasan kuat di Semananjung Melayu berabad silam.

Pada zaman kesultanan Palembang bangun sekitar kurun 16 lama berselang setelah runtuhnya dinasti Sriwijaya, dan pasca Kesultanan intinya perkawinan ditentukan oleh keluarga besar dengan pertimbangan bobot, bibit dan bebet.

Tarian merupakan bentuk pelepasan masa lajang dari sang pengantin perempuan. Tandanya, si perempuan perlu mengkomunikasikan kepada pasangannya kalau ingin beraktivitas di luar ranah domestik.

Tahapan pernikahan budbahasa Palembang secara berurutan dan terkait terdiri atas:

Milih Calon

Calon sanggup diajukan oleh si anak yang akan dikawinkan, sanggup juga diajukan oleh orang tuannya. Bila dicalonkan oleh orang tua, maka mereka akan menginventariskan dulu siapa-siapa yang akan dicalonkan, anak siapa dan keturunan dari keluarga siapa.

Madik

Madik Berasal dari kata bahasa Jawa Kawi yang berarti mendekat atau pendekatan. Madik yaitu suatu proses penyelidikan atas seorang gadis yang dilakukan oleh utusan pihak keluarga pria.Tujuannya untuk perkenalan, mengetahui asal usul serta silsilahkeluarga masing-masing serta melihat apakah gadis tersebut belum ada yang meminang.

Menyengguk

Menyengguk atau sengguk berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya memasang "pagar" semoga gadis yang dituju tidak diganggu oleh sengguk (sebangsa musang, sebagai kiasan tidak diganggu cowok lain). Menyengguk dilakukan apabila prosesMadikberhasil dengan baik, untuk memperlihatkan keseriusan, keluarga besar laki-laki mengirimkan utusan resmi kepada keluarga si gadis.

Utusan tersebut membawa tenong atau sangkek terbuat dari anyaman bambu berbentuk lingkaran atau segi empat berbungkus kain batik bersulam emas berisi makanan, sanggup juga berupa telor, terigu, mentega, dan sebagainya sesuai keadaan keluarga si gadis.

Ngebet

Bila proses sengguk telah mencapai sasaran, maka kembali keluarga dari pihak laki-laki berkunjung dengan membawa tenong sebanyak 3 buah, masing-masing berisi terigu, gula pasir dan telur itik. Pertemuan ini sebagai tanda bahwa kedua belah pihak keluarga telah "nemuke kato" serta setuju bahwa gadis telah 'diikat' oleh pihak pria. sebagai tanda ikatan, utusan laki-laki memperlihatkan bingkisan pada pihak perempuan berupa kain, materi busana, ataupun benda berharga berupa sebentuk cincin, kalung, atau gelang tangan.

Berasan

Berasal dari bahasa Melayu artinya bermusyawarah, yaitu bermusyawarah untuk menyatukan dua keluarga menjadi satu keluarga besar. Pertemuan antara dua pihak keluarga ini dimaksudkan untuk memilih apa yang diminta oleh pihak si gadis dan apa yang akan diberikan oleh pihak pria. Pada kesempatan itu, si gadis berkesempatan diperkenalkan kepada pihak keluarga pria. Biasanya suasana berasan ini penuh dengan pantun dan basa basi.

Setelah jamuan makan, kedua belah pihak keluarga telah bersepakat wacana segala persyaratan perkawinan baik tata cara budbahasa maupun tata cara agama Islam. Pada kesempatan itu pula ditetapkankapan hari berlangsungnya program "mutuske kato". Dalam tradisi budbahasa Palembang dikenal beberapa persyaratan dan tata cara pelaksanaan perkawinan yang harus disepakati oleh kedua belah pihak keluarga, baik secara syariat agama Islam, maupun berdasarkan budbahasa istiadat.


Menurut syariat agama Islam, kedua belah pihak setuju wacana jumlah mahar atau mas kawin, Sementara berdasarkan budbahasa istiadat, kedua pihak akan menyepakati budbahasa apa yang akan dilaksanakan, apakah budbahasa Berangkat Tigo Turun, budbahasa Berangkat duo Penyeneng, budbahasa Berangkat Adat Mudo, budbahasa Tebas, ataukah budbahasa Buntel Kadut, dimana masing-masing mempunyai perlengkapan dan persyaratan tersendiri.

Mutuske Kato

Acara ini bertujuan kedua pihak keluarga menciptakan keputusan dalam hal yang berkaitan dengan:"hari ngantarke belanjo" hari pernikahan, dikala Munggah, Nyemputi dan Nganter Penganten, Ngalie Turon, Becacap atau Mandi Simburan dan Beratib. Untuk memilih hari pernikahandan program Munggah, lazim dipilih bulan-bulan Islam yang dipercaya memberi barokah bagi kedua mempelai kelak yakni bulan Robiul Awal, Robiul Akhir, Jumadilawal, Jumadilakhir.

Bulan-bulan tersebut konon dipercayah bahwa bulan purnama sedang cantik-cantiknya menyinari bumi sehingga cahayanya akan menjadi penerang kehidupan bagi kedua mempelai secerah purnama. Saat 'mutuske kato' rombongan keluarga laki-laki mendatangi kediaman pihak perempuan dimana pada dikala itu pihak laki-laki membawa 7 tenong yang antara lain berisi gula pasir, terigu, telur itik, pisang dan buah-buahan.

Selain menciptakan keputusan tersebut, pihak laki-laki juga memperlihatkan (menyerahkan) persyaratan budbahasa yang telah disepakati dikala program berasan. sebagai contohnya, bila setuju persyaratan budbahasa Duo Penyeneng, maka pihak laki-laki pada dikala mutoske kato menyerahkan pada pihak gadis dua lembar kemben tretes mider, dua lembar baju kurung angkinan dan dua lembar sewet songket cukitan.

Berakhirnya program mutuske kato ditutup dengan doa keselamatan dan permohonan pada Tuhan SWT semoga pelaksanaan perkawinan berjalan lancar. Disusul program sujud calon pengantin perempuan pada calon mertua, dimana calon mertua memperlihatkan emas pada calon mempelai perempuan sebagai tanda kasihnya. Menjelang pulang 7 tenong pihak laki-laki ditukar oleh pihak perempuan dengan isian jajanan khas Palembang untuk dibawa pulang.

Nganterke Belanjo

Prosesi nganterke belanjo biasanya dilakukan sebulan atau setengah bulan bahkan beberapa hari sebelum program Munggah. Prosesi ini lebih banyak dilakukan oleh kaum wanita, sedangkan kaum laki-laki hanya mengiringi saja. Uang belanja (duit belanjo) dimasukan dalam ponjen warna kuning dengan atribut pengiringnya berbentuk manggis. Hantaran dari pihak calon mempelai laki-laki ini juga dilengkapi dengan nampan-nampan paling sedikit 12 buah berisi aneka keperluan pesta, antara lain berupa terigu, gula, buah-buahan kaleng, sampai kue-kue dan jajanan.

Lebih dari itu diantar pula'enjukan' atau ajakan yang telah ditetapkan dikala mutuske kato, yakni berupa salah satu syarat budbahasa pelaksanaan perkawinan sesuai kesepakatan. Bentuk gegawaan yang juga disebut masyarakat Palembang 'adat ngelamar' dari pihak laki-laki (sesuai dengan kesepakatan) kepada pihak perempuan berupa sebuah ponjen warna kuning berisi duit belanjo yang dilentakan dalam nampan, sebuah ponjen warna kuning berukuran lebih kecil berisi uang pengiring duit belanjo, 14 ponjen warna kuning kecil diisi koin-koin logam sebagai pengiring duit belanjo, selembar selendang songket, baju kurung songket, sebuah ponjen warna kuning berisi uang'timbang pengantin' 12 nampan berisi banyak sekali barang keperluan pesta, serta kembang setandan yang ditutup kain sulam berenda.

Persiapan Menjelang Akad Nikah

Ada beberapa ritual yang biasanya dilakukan terhadap calon pengantin perempuan yang biasanya dipercaya berguna untuk kesehatan kecantikan, yaitu betangas. Betangas yaitu mandi uap, kemudian Bebedak setelah betangas, dan berpacar (berinai) yang diberikan pada seluruh kuku kaki dan tangan dan juga telapak tangan dan kaki yang disebut pelipit.

Upacara Akad Nikah

Menyatukan sepasang kekasih menjadi suami istri untuk memasuki kehidupan berumahtangga. Upacara ini dilakukan dirumah calon pengantin pria, seandainya dilakukan dirumah calon pengantin wanita, maka dikatakan 'kawin numpang'. Akan tetapi sesuai dengan perkembangan masa, kini upacara ijab kabul berlangsung dikediaman mempelai wanita. Sesuai tradisi bila ijab kabul sebelum program Muggah, maka utusan pihak perempuan terlebih dahulu ngantarke keris ke kediaman pihak pria.

Ngocek Bawang

Ngocek Bawang diistilahkan untuk melaksanakan persiapan awal dalam menghadapi hari munggah. Pemasangan tapup, persiapan bumbu-bumbu masak dan lain sebagainya disiapkan pada hari ini. Ngocek bawang kecik ini dilakukan dua hari sebelum program munggah.

Selanjutnya pada esok harinya sehari sebelum munggah, dilakukan program ngocek bawang besak. Seluruh persiapan berat dan perapian segala persiapan yang belum selesai dikerjakan pada waktu ini. Daging, ayam dan lain sebagainya disiapkan dikala munggah, mengundang (ngulemi) ke rumah besannya, dan si pihak yang di ulemi pada masa ngocek bawang wajib datang, biasannya pada masa ini diutus dua orang yaitu perempuan dan pria.

Munggah

Prosesi ini merupakan puncak rangkaian program perkawinan budbahasa Palembang. Hari munggah biasanya ditetapkan hari libur diantara setelah hari raya Idul Fitri & Idul Adha. Pada pagi hari sebelum acara, dari pihak mempelai perempuan tiba ke pihak laki-laki (ngulemi) dengan mengutus satu pasang lelaki & wanita.

Selain melibatkan banyak pihak keluarga kedua mempelai, juga dihadiri para tamu undangan. Munggah bermakna semoga kedua pengantin menjalani hidup berumah tangga selalu seimbang atau timbang rasa, harmonis dan damai.

Pelaksanaan Munggah dilakukan dirumah kediaman keluarga pengantin wanita. Sebelum prosesi Munggah dimulai terlebih dahulu dibuat deretan dari rombongan laki-laki yang akan menuju kerumah kediaman keluarga pengantin wanita. Sebelum prosesi Munggah dimulai terlebih dahulu dibuat deretan yang akan berangkat menuju rumah pengatin wanita. Formasi itu yaitu :

Kumpulan (grup) Rudat dan Kuntau
Pengatin Pria diapit oleh kedua orang tua, dua orang pembawa tombak, seorang pembawa payung pengantin, didampingi juru bicara, pembawa bunga langsih dan pembawa ponjen budbahasa serta pembawa hiasan budbahasa dan gegawan.

Nyanjoi

Nyanjoi dilakukan disaat malam setelah munggah dan setelah nyemputi. Biasannya nyanjoi dilakukan dua kali, yaitu malam pertama yang tiba nyanjoi rombongan muda-mudi, malam kedua orang tua-tua. Demikian juga pada masa setelah nyemputi oleh pihak besan lelaki.

Nyemputi

Dua hari setelah munggah biasannya dilakukan program nyemputi. Pihak pengantin lelaki tiba dengan rombongan menjemputi pengantin untuk berkunjung ketempat mereka, sedangkan dari pihak perempuan sudah siap rombongan untuk nganter ke pengantin. Pada masa nyemputi penganten ini di rumah pengantin lelaki sudah disiapkanacara keramaian (perayaan). Perayaan yang dilakukan untuk wanita-wanita pengantin ini gres dilakukan pada tahun 1960-an, sedangkan sebelumnya tidak ada.

Nganter Penganten

Pada masa nganter penganten oleh pihak besan lelaki ini, di rumah besan perempuan sudah disiapkan program mandi simburan. Mandi simburan ini dilakukan untuk menyambut malam perkenalan antara pengantin lelaki dengan pengantin wanita.

Malam perkenalan ini merupakan selesainya kiprah dari tunggu jeru yaitu perempuan yang ditugaskan untuk mengatur dan memperlihatkan petunjuk cara melaksanakan program demi program disaat pelaksanaan perkawinan. Wanita tunggu jeru ini sanggup berfunsi sebagai penanggal atau penjaga keselamatan berlangsungnya selauruh program perkawinan yang kemungkinan akan ada gangguan dari orang yang tak senang.

Dalam upacara perkawinan budbahasa Palembang, kiprah kaum perempuan sangat dominan, alasannya yaitu hampirseluruh kegiatan program demi program diatur dan dilaksanakan oleh mereka. Pihak lelaki hanya menyiapkan "ponjen uang". Acara yang dilaksanakan oleh pihak lelaki hanya cara perkawinan dan program beratib yaitu program syukuran disaat seluruh upacara perkawinan sudah diselesaikan

Demikian Tradisi Upacara perkawinan Adat Suku Palembang Sumatera Selatan

Sumber https://www.senibudayawisata.com/

Jangan sampai ketinggalan postingan-postingan terbaik dari Tempat Wisata Tradisi Upacara Perkawinan Etika Suku Palembang Sumatera Selatan. Berlangganan melalui email sekarang juga:

Bali Attractions

BACA JUGA LAINNYA:

0 Response to "Tempat Wisata Tradisi Upacara Perkawinan Etika Suku Palembang Sumatera Selatan"

Post a Comment

Bali Attractions