Tempat Wisata Keunikan Pakaian Tabiat Tradisional Melayu Teluk Belanga Dan Kebaya Labuh Riau

Keunikan Pakaian Adat Tradisional Melayu Teluk Belanga dan Kebaya Labuh Riau Tempat Wisata Keunikan Pakaian Adat Tradisional Melayu Teluk Belanga dan Kebaya Labuh Riau
Keunikan Pakaian Adat Tradisional Melayu Teluk Belanga dan Kebaya Labuh Riau Keunikan Pakaian Adat Tradisional Melayu Teluk Belanga dan Kebaya Labuh Riau Tempat Wisata Keunikan Pakaian Adat Tradisional Melayu Teluk Belanga dan Kebaya Labuh Riau

Pakaian tradisional Melayu Riau terdiri dari aneka macam macam jenis. Jenis pakaian ini tergantung pada situasi dan kondisi . Pakaian tradisional Riau terdiri atas pakaian harian dan pakaian resmi/pakaian adat.

Pakaian harian digunakan setiap hari, baik oleh anak-anak, dewasa, maupun orang tua. Pakaian sehari-hari dikenakan untuk aneka macam kegiatan harian, contohnya dikala bekerja di ladang, bermain, ke laut, di rumah, maupun kegiatan yang lain.

Ada beberapa ragam baju Pakaian akhlak Melayu Riau nan perlu kita kenal, di antaranya ialah sebagai berikut.

1. Pakaian Sehari-Hari

Pakaian sehari-hari digunakan buat kegiatan sehari- hari. Sandang tersebut dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu baju buat anak-anak, dewasa, cendekia baligh, dan orangtua.

a. Pakaian anak-anak diberikan baju monyet. Jika nanti mereka sudah semakin dewasa, maka pakaian nan digunakan ialah pakaian kurung teluk belanga atau cekak musang. Untuk anak wanita nan belum cendekia baligh menggunakan pakaian kurung satu stel dengan motif kembang satu corak.

b. Pakaian dewasa atau cendekia baligh ialah pakaian kurung cekak musang atau teluk belanga tulang belut.

c. Pakaian buat orang renta ada model pakaian kurung tulang belut. Untuk perempuannya menggunakan pakaian kurung kebaya labuh, dan pakaian kurung teluk belanga atau biasa disebut pula pakaian kurung cekak musang.

2. Pakaian Resmi

Ini ialah baju akhlak formal. Untuk lelaki menggunakan pakaian kurung cekang musang, dengan tambahan kopiah. Kain samping terbuat dari kain tenun Siak, Daik, Trengganu atau Indragiri.

Bagi wanita menggunakan pakaian kurung kebaya labuh dan pakaian kurung teluk belanga atau pakaian kurung cekak musang. Rambut disiput lipat pandan, lintang atau jonget. Kepala menggunakan selendang dibelitkan di leher. Rambutnya tidak ditampakkan dengan dada tertutup.

3. Pakaian Adat Melayu Riau buat Upacara Adat

Pada dikala upacara akhlak , kombinasinya diubahsuaikan dengan masing-masing wilayah Kerajaan Melayu. Upacara-upacara tersebut, antara lain upacara penobatan raja, upacara peresmian menteri, penyambutan tamu agung, pernikahan, keagamaan, penganugerahan persembahan dari rakyat dan negeri-negeri sahabat.

4.Pakaian Adat Melayu Riau buat Pernikahan

Untuk baju akhlak pernikahan di seluruh wilayah Riau, baik di Kepulauan Riau, Melayu pesisir, dan daratan Riau, semuanya hampir sama. Perbedaannya hanya pada sesi acaranya saja, sebagai teladan pada dikala ijab kabul kostumnya berbeda pada dikala pesta pernikahan.

Secara garis besar, mempelai lelaki menggunakan pakaian cekak musang atau pakaian kurung teluk belanga. Untuk daerah Lima Koto Kampat, pakaian pengantinnya berbentuk jubah.

Bagi mempelai perempuan, pada malam berinai menggunakan kebaya labuh atau menggunakan pakaian kurung teluk belanga dari materi tenun, sutra, satin atau broklat. Kain nan digunakan ialah kain tenun songket dan Siak, Indragiri, Daik atau Trengganu.

5. Pakaian Adat Melayu Riau untuk Upacara Keagamaan

Pakaian buat upacara keagamaan hampir sama buat aneka macam acara. Para lelaki renta muda menggunakan baju cekak musang atau pakaian kurung teluk belanga, menggunakan songkok, kain samping dari kain pelekat atau kain tenun. Cara penggunaan pakaian ada dua cara, yaitu pakaian dagang dalam dan pakaian dagang luar

Pakaian Pakaian Adat Tradisional Melayu dikenakan pada acara-acara tertentu yang berkenaan dengan kegiatan resmi atau pada dikala program adat.

Terdiri dari Pakaian Adat Teluk Belanga dan Pakaian Adat Teluk Belanga Kebaya Labuh

 Teluk Belanga (Pakaian Adat Pria)

Baju ini mempunyai motif polos, berwarna tidak terlalu mencolok, meskipun terkadang berwarna kuat menyerupai merah atau biru tetapi tetap terlihat teduh. Warna yang dipilih senada dengan celana yang dipakai.

Di antara baju dan celana panjang, dikenakan kain sarung yang diikat biasa setinggi lutut. Terkadang kain sarung difungsikan menyerupai semacam selendang.

Pada penggalan kepala mengenakan ikat kepala yang terbuat dari kain persegi empat yang diikat sedemikian rupa, ikat kepala tersebut disebut tanjak. Tanjak biasanya terbuat dari kain songket.

Penggunaan tanjak kini ini hanya digunakan ketika menghadiri acara-acara resmi menyerupai kenduri pernikahan atau program akhlak lainnya.  Untuk pemakaian sehari-sehari, kaum lelaki lebih menentukan menggunakan songkok atau peci sebagai epilog kepala.

Teluk Belanga merupakan pakaian akhlak tertinggi dalam susunan akhlak Melayu Kepulauan Riau

Kebaya labuh berbentuk semacam kebaya pada umumnya, namun penggalan bawahnya menjuntai sampai menutupi lutut. Cara pemakaiannya biasanya dipadukan dengan kain batik sebagai bawahan. Terkadang ditambahkan dengan selendang sebagai tambahan aksesoris.

Sebagaimana kebaya pada umumnya, dua sisi penggalan depan kebaya labuh dikaitkan dengan tiga buah kancing, pada jaman dahulu menggunakan peniti, sehingga penggalan bawah kebaya labuh tampak melebar dan terbuka.

Kebaya labuh berbahan kain, baik itu sutera cina, broked, dan lain-lain. Untuk acara-acara formal, biasanya wanita Melayu Kepulauan Riau menggunakan materi sutera Cina yang halus dan sarung songket sebagai bawahan.

Kebaya labuh juga biasa digunakan sebagai pakaian mempelai wanita ketika sedang melangsungkan kesepakatan nikah. Umumnya hanya mengenakan sanggul lipat pandan yang dihiasi dengan kembang goyang atau sanggup juga menggunakan kerudung.

Kebaya Labuh merupakan salah satu jenis baju kurung yang tersebar di masyarakat etnik Melayu. Konon pakaian ini merupakan jenis tertua yang masih ada sampai sekarang.

Sebagai jenis pakaian tertua, tentunya banyak busana yang merupakan variasi dari kebaya labuh, diantaranya: kebaya labuh nyonya dan kebaya pendek.

Kebaya Labuh Nyonya merupakan pakaian yang biasa digunakan oleh wanita etnik Cina yang bedara di tempat Melayu. Bentuk dan bahannya tidak jauh berbeda dengan kebaya labuh, hanya saja pada penggalan depan kebaya labuh nyonya terkadang disematkan sapu tangan.

Kebaya pendek yang tersebar hampir di seluruh penggalan barat Indonesia juga merupakan variasi dari kebaya labuh, penggalan bawahnya pendek hanya menutupi penggalan pinggul pemakainya.

Awalnya kebaya pendek juga digunakan oleh keturunan Cina, namun pada perkembangannya kebaya pendek ini meluas dari segi pengguna maupun dari motifnya. di tempat melayu, kebaya pendek sering disebut sebagai kebaya labuh modern


Awalnya Teluk Belanga maupun Kebaya Labuh merupakan identitas muslim Melayu, tetapi kini pemakai kedua pakaian tersebut tidak terbatas pada masyarakat Melayu muslim saja

Teluk Belanga dan Kebaya Labuh sesungguhnya bukan satu-satunya pakaian akhlak Kepulauan Riau yang sanggup kita temukan. Ada banyak jenis pakaian daerah lainnya yang erat dengan budaya masyarat kepulauan Riau. Beberapa di antaranya yaitu baju kurung keke, baju gunting cina, baju telepuk, dan lain sebagainya.

Fungsi Pakaian Adat Riau

Bagi masyarakat Melayu di Riau, pakaian bukan hanya berfungsi untuk melindungi tubuh, namun juga mempunyai fungsi-fungsi tertentu yang bekerjasama dengan akhlak dan kepercayaan masyarakat. Beberapa fungsi pakaian akhlak bagi masyarakat Melayu daerah Riau ialah sebagai berikut:

1.   Fungsi Budaya
Pakaian tradisional sanggup menjadi ciri kebudayaan tertentu dalam suatu masyarakat. Secara umum, fungsi pakaian untuk menutup tubuh.

Namun, kemudian muncul aneka macam pemanis dan ciri khas yang membedakan antara suatu masyarakat dengan masyarakat yang lain.

Di masyarakat Riau, pakaian menjadi simbol yang digunakan dalam pelaksanaan upacara atau dalam acara-acara tertentu. Setiap upacara mempunyai jenis pakaian yang berbeda yang tentu saja juga berbeda dengan pakaian yang dikenakan sehari-hari.

2.   Fungsi Estetik
Estetika busana Melayu Riau muncul dalam aneka macam bentuk hiasan yang terdapat dalam pakaian tersebut. Selain aneka macam hiasan, warna-warna dalam pakaian tradisional Riau juga mengandung makna-makna tertentu.

Misalnya, warna kuning mengandung arti kekuasaan. Pakaian dengan warna menyerupai ini biasanya diperuntukkan bagi sultan atau raja. Warna hitam mengandung makna keberanian.

Pakaian dengan warna menyerupai ini biasanya digunakan oleh para hulubalang dan para petarung yang melambangkan ketangkasan mereka.

3.   Fungsi Religius
Pakaian tradisional daerah Riau mengandung makna dan berfungsi keagamaan. Pengaruh Islam dalam tata cara berpakaian sedikit banyak kuat pada pakaian daerah Riau, di mana fungsi pakaian ialah untuk menutup aurat.

Hal ini sanggup kita lihat pakaian wanita yang berbentuk baju kurung, kerudung, dan menutupi hampir semua anggota tubuhnya. Selain dari bentuknya, fungsi religius pakaian tradisional Riau juga terlihat dari simbol yang digunakan sebagai hiasan yang berbentuk bulan dan bintang.

Simbol tersebut mengandung makna ketakwaan terhadap Tuhan. Fungsi religius busana Melayu di daerah Riau juga muncul di aneka macam media yang mereka gunakan untuk upacara, contohnya adanya kelengkapan tepung tawar.


4.   Fungsi Sosial
Pakaian tradisional Riau mengandung makna dan berfungsi secara sosial. Pakaian tradisional Riau yang digunakan masyarakat, baik yang berasal dari golongan ningrat maupun masyarakat biasa ialah sama, yaitu baju kurung.

Perbedaannya hanya terletak pada materi dan warna yang dipilih, dikarenakan dalam tradisi masyarakat Riau warna pakaian mempunyai lambang dan makna tertentu.

5.   Fungsi Simbolik
Pakaian tradisional mempunyai makna simbolik tertentu yang sanggup diterka lebih dahulu untuk mengetahui maknanya. Nilai-nilai simbolik yang terkait dengan pakaian tradisional, perhiasan, serta kelengkapannya terdapat pada kostum yang digunakan dalam upacara-upacara tradisional.

Busana bukan hanya dimaknai sebagai pakaian yang dipakai, namun juga peralatan upacara yang digunakan. Beberapa makna yang terkandung dalam busana tradisional masyarakat Melayu Riau contohnya sirih (lambang persaudaraan dan kehormatan), bibit kelapa (simbol keturunan), payung (tempat bernaung).

 Nilai-Nilai Pakaian Adat Riau

Nilai-nilai yang terkandung dalam pakaian tradisional Melayu Riau ialah sebagai berikut:

1.   Nilai Tradisi
Busana yang dikenakan dalam suatu upacara akhlak telah menjadi tradisi selama bertahun-tahun. Hal ini menjadi ciri khas dan keunikan sebuah masyarakat. Dari busana akhlak yang dikenakan, maka sanggup dipelajari mengenai tradisi masyarakat yang bersangkutan.

2.   Nilai Pelestarian Budaya
Pakaian merupakan salah satu produk kebudayaan modern yang semakin hari semakin berkembang. Pakaian akhlak yang dikala ini banyak digunakan masyarakat Melayu Riau merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan. Melestarikan busana tradisional tersebut sama artinya dengan melestarikan kekayaan budaya Melayu.

3.   Nilai Sosial
Pakaian menjadi simbol tertentu yang menjadi penanda status seseorang. Selain itu, lewat nilai-nilai yang dikandungnya, pakaian Melayu juga bermakna sebagai media untuk menyatukan masyarakat.

Nilai-nilai sosial itu muncul sebab dalam pakaian tradisional tersebut tersemat makna-makna tertentu yang dinilai dan ditafsirkan oleh masyarakatnya.

Demikian Keunikan Pakaian Adat Tradisional Melayu Teluk Belanga dan Kebaya Labuh Riau

Sumber https://www.senibudayawisata.com/

Jangan sampai ketinggalan postingan-postingan terbaik dari Tempat Wisata Keunikan Pakaian Tabiat Tradisional Melayu Teluk Belanga Dan Kebaya Labuh Riau. Berlangganan melalui email sekarang juga:

Bali Attractions

BACA JUGA LAINNYA:

0 Response to "Tempat Wisata Keunikan Pakaian Tabiat Tradisional Melayu Teluk Belanga Dan Kebaya Labuh Riau"

Post a Comment

Bali Attractions