Tempat Wisata Wisata Sejarah Bangunan Dan Benda Bersejarah Peninggalan Sejarah Provinsi Lampung

Wisata Sejarah Bangunan dan Benda Bersejarah Peninggalan Sejarah Provinsi Lampung Indonesi Tempat Wisata  Wisata Sejarah Bangunan dan Benda Bersejarah Peninggalan Sejarah Provinsi Lampung
Wisata Sejarah Bangunan dan Benda Bersejarah Peninggalan Sejarah Provinsi Lampung Indonesia Wisata Sejarah Bangunan dan Benda Bersejarah Peninggalan Sejarah Provinsi Lampung Indonesi Tempat Wisata  Wisata Sejarah Bangunan dan Benda Bersejarah Peninggalan Sejarah Provinsi Lampung

Lampung yaitu sebuah provinsi paling selatan di Pulau Sumatera, Indonesia, Ibukotanya terletak di Bandar Lampung. Provinsi ini memilki 2 Kota dan 13 Kabupaten. Kota yang dimaksud yaitu Kota Bandar Lampung dan Kota Metro. Disebelah utara berbatasan dengan Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Banyaknya banyak sekali peninggalan sejarah di provinsi Lampung yang menyisakan sejarah bagi anak keturunan bangsa yang perlu di lestarikan nilai kebudayaan yang ditinggal oleh leluhur nenek moyang.

Berikut adalah  Wisata Sejarah Bangunan dan Benda Bersejarah Peninggalan Sejarah Provinsi Lampung Indonesia ;

1. Bangunan Dinas Kesehatan

Bangunan Dinas kesehatan ini terletak dijalan Dr. Susilo no.44, dengan luas bangunan1145 m2. batas persil bangunan adalah: sebelah Utara berbatas dengan Jalan Dr. Susilo, sebelah Selatan berbatas dengan lereng Tirta  Sari, sebelah Barat berbatas dengan Jalan Way Besai, sebelah Timur berbatas dengan jalan Kesehatan.

Gedung yang dibangun tahun 1954 ini digunakan tahun 1958, nama pemiliknya Komando Pemberantas Malaria ( KOPEM ) atas prakarsa DEPKES  pada pemerintah Indonesia tahun 1958.

Orientasi bangunan mengarah ke Timur jalan Kesehatan. Untuk denah  bangunan empat persegi panjang digabung membentuk huruf E. langgam bangunan berkesan kokoh, monumental, kesan yang dimunculkan oleh bangunan tersebut.bentuk atap limasan.

2. Batu Kepapang

Batu Kepapang yaitu sebuah situs yang terletak di Pekon Kenali, Kecamatan Belalau. Situs ini berada di belakang SDN 1 Kenali. Pagar semen mengelilingi areal situs yang ditumbuhi flora cokelat, pisang, dan banyak sekali flora kebun. Situs ini terletak di tanah penyimbang (sai batin dalam bahasa setempat).

Di sini terdapat sebuah marmer bertuliskan "Situs Batu Kepapang" yang ditandatangani Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. Marmer ini ditempel di pagar tembok yang gres dibuat. Menurut warga, situs ini nyaris terbengkalai. Baru dipagar sehabis diberi proteksi Gubernur Rp5 juta.

Ada dua riwayat Batu Kepapang. Pertama, dongeng yang menyatakan jikalau situs ini peninggalan masyarakat Tumi yang merupakan nenek moyang orang Lampung yang tinggal di Kerajaan Skalabrak.

Kisah kedua, Batu Kepapang digunakan pada zaman kemerdekaan untuk mengadili atau memotong orang-orang. Namun, kisah ini tidak begitu dikenal masyarakat. Masih diragukan kebenarannya.

3. Buay pernong

Buay Pernong yaitu sebuah rumah adat yang indah di Way Pernong, sebelum Liwa. Rumah ini terletak di sisi sebelan kanan jalan menuju Liwa. Rumah adat ini dimiliki keturunan Buay Pernong.

Sebagian rumah adat ini masih asli, beberapa bab yang direnovasi lantaran rusak ketika gempa 1993 lalu. Di sini terdapat meriam besar buatan zaman Belanda yang berasal dari Krui. Selain itu, banyak benda kuno mirip lemari dan kursi.

Di belakang rumah adat ini terdapat makam Raja Selalau ketiga dan penerusnya. Di atas batu-batu yang menutupi makam, terdapat banyak sekali tanda berbentuk mirip binatang atau lambang tertentu.
Selain makam Raja Selalau, di bersahabat areal makam juga terdapat semacam benteng tanah berbentuk parit sedalam 1,5 - 3 meter. Benteng ini mengingatkan pada benteng parit yang terdapat di situs Pugungraharjo. Sayangnya, benteng parit ini belum dipugar instansi terkait atau diteliti lebih lanjut.

4. Gedong Aer

Gedong Aer yaitu sebuah menara dan bangunan yang dijadikan sebagai tempat penampungan cadangan air. Didirikan pada Abad ke-18. Lokasinya sendiri berada di Jl. Imam Bonjol, Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung.

Saat itu, tepatnya 1827 Pemerintah Belanda yang merasa perlu memenuhi kebutuhan logistik di Lampung, merasa perlu untuk menciptakan sebuah menara dan bangunan yang sanggup dijadikan sebagai tampungan cadangan air yang merupakan kebutuhan primer.

Setelah Belanda hengkang dari Indonesia dan digantikan Jepang, bangunan ini juga turut difungsikan sebagai pemasok air utama. hingga ketika ini bangunan ini juga masih sanggup berfungsi hingga sanggup dikelola oleh PDAM.

5. Gedung Daswati

Gedung Daswati yaitu sebuah rumah yang terletak di Jalan Tulang Bawang No 11 Enggal. Daswati merupakan abreviasi (kepanjangan) dari Daerah Swantra Tingkat  I yang juga berarti sebagai tempat otonom.

Rumah ini dulunya milik Kolonel Achmad Ibrahim. Pernah menjadi kantor Front Nasional (FN), organisasi massa yang dibuat Bung Karno sebagai bab dari pemerintah untuk membangun republik paska perang kemerdekaan.

Daswati I merupakan cikal bakal pemerintahan provinsi. Daswati I Lampung yang gres melepaskan diri dari Daswati I Sumatera Selatan gres mempunyai Daerah Tingkat II Lampung Utara, Lampung Tengah, Lampung Selatan, dan Kotapraja Tanjungkarang-Telukbetung (embrio Kota Bandar Lampung).

Upacara serah terima penyerahan kewenangan pemerintah  Daerah Swatantra Tingkat (Daswati) I Sumatera Selatan kepada Daswati I Lampun berlangsung pada tanggal 18 Maret 1964.

6. Istana Skala Brak

Sultan Kepaksian Sekala Brak, dari kiri : Sultan Kepaksian Nyerupa, Sultan Kepaksian Bejalan Diway, Sultan Kepaksian Pernong, dan Sultan Kepaksian Belunguh
Skala Brak yaitu sebuah kerajaan yang bercirikan Hindu dan dikenal dengan Kerajaan Sekala Brak Hindu. Diriwayatkan sehabis kedatangan Empat Umpu dari Pagaruyung yang berbagi agama Islam, Kerajaan Skala Brak Hindu kemudian menjelma Kepaksian Sekala Brak, terletak di kaki Gunung Pesagi (gunung tertinggi di Lampung).

Dikutipan dari situs Melayu Online, Kerajaan Skala  Brak (Sekala Beghak) berdiri di Lampung sekitar masa ke-3 Masehi dengan pemimpinnya berjulukan Raja Buay Tumi (William  Marsden, 2008). Nama Raja Buay Tumi diyakini sebagai pemimpin Suku Tumi, yakni  salah satu bangsa pertama yang menempati tanah Lampung dan kemudian membangun  peradaban di Skala Brak. Lokasi Kerajaan Skala Brak terletak di lereng Gunung  Pesagi, Belalau, di sebelah selatan Danau Ranau, kini termasuk ke dalam  wilayah Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung.

Keberadaan  Kerajaan Skala Brak dianggap sebagai simbol peradaban, kebudayaan, dan  eksistensi orang Lampung. Penyebutan Lampung sendiri berasal dari kata Anjak Lambung yang artinya mengatakan tempat yang tinggi, yakni lereng Gunung  Pesagi, gunung tertinggi di Lampung (Diandra Natakembahang, 2005). Keterangan ini  merujuk bahwa sejarah orang Lampung  sangat berkaitan dengan Skala Brak yang terletak di lereng Gunung Pesagi.


7. Masjid Al-Anwar

Masjid Al Anwar merupakan tempat beribadah orang Islam yang tercatat sebagai masjid tertua di lampung, didirikan oleh Daeng Sulaiman, seorang warga Lampung keturunan suku Bugis pada tahun 1888 silam.

Masjid Al Anwar dibangun di atas tanah seluas 6000 meter, terletak di Jalan Laksamana Malahayati No. 100, Kangkung, Teluk Betung Selatan, Pesawahan, Tlk. Betung Sel., Kota Bandar Lampung, Lampung.

Akibat letusan Gunung Krakatau, Masjid Al Anwar sempat rusak, namun bangunan ini kembali dibangun dan hingga ketika ini masih digunakan bahkan kemudian berkembang menjadi sentra pengkajian filsafat ilmu Islam. Pada masa usaha kemerdekaan, masjid ini berperan sebagai basis perlawanan rakyat ketika Belanda menduduki Lampung.

8. Monumen peringatan meletusnya gunung krakatau

Monumen peringatan meletusnya gunung krakatau
Monumen peringatan meletusnya gunung krakatau ini berupa sebuah rambu bahari seberat setengah ton yang terlempar tanggapan gelombang pasang / tsunami setinggi 30 m yang ditimbulkan oleh letusan gunung krakatau tahun 1883. Kala itu tempat / taman tersebut merupakan bab dari lokasi kantor residen lampung. 2 pohon beringin dan ambon menaungi monumen tersebut dengan latar belakang suasana sentra kota Telukbetung.

Monumen peringatan meletusnya gunung krakatau terletak di jl. W.r. supratman telukbetung menempati lokasi taman (taman dipangga).

9. Museum Lampung

Museum Negeri Lampung atau Museum Lampung, yaitu sebuah museum yang terletak di Kota Bandar Lampung, provinsi Lampung, Indonesia. Beralamat di Jalan ZA Pagar Alam No.64 Bandar Lampung.

Museum ini merupakan museum pertama dan terbesar di provinsi Lampung dan merupakan pujian masyarakat provinsi Lampung.

Letak museum ini cukup strategis lantaran tak jauh dari sentra kota Bandar Lampung, yakni hanya 15 menit perjalanan.

Pembangunan Museum Lampung telah dimulai tahun 1975 dan peletakan watu pertama dilaksanakan tahun 1978. Akan tetapi, peresmiannya gres dilaksanakan pada 24 September 1988 dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu, Prof. Dr. Fuad Hasan. Peresmian tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Aksara Internasional yang dipusatkan di PKOR Way Halim.

Ruwa Jurai yang diabadikan sebagai nama museum ini diambil dari goresan pena Sai Bumi Ruwa Jurai dalam logo resmi Provinsi Lampung diresmikan penggunaannya semenjak 1 April 1990. Memasuki era otonomi daerah, museum ini beralih status menjadi UPTD di bawah Dinas Pendidikan Provinsi Lampung.


10. Penjagalan / Rumah Potong Hewan (RPH)

Gedung ini dulunya yaitu tempat pemotongan sapi dan Babi, dibangun pada tahun 1927, Pemilik awal bangunan yaitu Pemerintah Hindia Belanda yaitu Dinas Kehewanan kemudian di ambil alih Pemerintah Indonesia semenjak kemerdekaan tahun 1945-an. Saat ini bangunan tersebut dibawah kewenangan Dinas Peternakan Kota Bandar Lampung. Bangunan terletak di jalan Dr. Warsito 53, dengan luas bangunan 556 m2 Kondisi fisik bangunan mengalami kerusakan sebagian kecil contohnya beling jendela pecah, daun pintu tidak sanggup dibuka tanggapan karat dimakan usia. Lantai dan warna dasar bangunan buram namun secara keseluruhan Fisik bangunan tidak berubah.


11. Prasasti Batu Bedil

Prasasti Batu Bedil diperkirakan berasal dari sekitar masa ke-10 M yang ditemukan di Pulau Panggung. Prasasti Batu Bedil terletak di Dusun Batu Bedil, Desa Gunung Meraksa, Kecamatan Pulau Panggung, Kabupaten Tanggamus.

Prasasti Batu Bedil dituliskan pada sebongkah watu yang berukuran tinggi ± 157 cm dan lebar 72 cm. Prasasti terdiri atas 10 baris dengan tinggi huruf sekitar ± 5 cm. Tulisan tersebut berada dalam satu bingkai. Pada bab bawah bingkai terdapat gesekan membentuk padma atau bunga teratai. Kondisi huruf sudah aus namun pada beberapa bab masih sanggup terbaca. Pada baris pertama terbaca Namo Bhagawate dan pada baris kesepuluh terbaca Swâhâ. Namo Bhagawate sebagai permulaan dan Swâhâ sebagai epilog memberi dugaan bahwa prasasti itu berkaitan dengan mantra. Bahasa yang digunakan yaitu Sansekerta. Prasasti ini tidak berangka tahun. Berdasarkan paleografisnya mengatakan bahwa prasasti ini berasal dari simpulan masa ke-9 atau awal masa ke-10. Selain tinggalan berupa prasasti, di Kompleks Prasasti Batu Bedil juga terdapat beberapa watu tegak.


12. Prasasti Bungkuk

Prasasti bungkuk ditemukan di Desa Bungkuk, Kecamatan Marga Tiga, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung pada 8 Maret 1985. Prasasti ini ditemukan oleh seorang warga yang sedang memancing di pinggir Way Batanghari yang melintas di Desa Bungkuk.

Prasasti ini dipahatkan pada watu andesit, dengan mempunyai ukuran tinggi 63 cm, tebal 63 cm, diameter atas 70 cm, dan diameter bawah 61 cm. Keadaannya sudah aus sehingga tidak sanggup terbaca dengan lengkap. Prasasti ini terdiri dari 13 baris beraksara Pallawa, dan berbahasa Melayu Kuno.

Dari goresan pena yang masih terang dan dibaca oleh Boechari dan Hasan Djafar, diketahui bahwa prasasti ini berisi mengenai sumpah dan kutukan bagi mereka yang tidak tunduk dan berbuat jahat kepada Sriwijaya.

Berdasarkan paleografinya, prasasti ini diperkirakan berasal dari simpulan masa ke-7 M, dan ketika ini prasasti aslinya berada di Rumah Informasi Taman Purbakala Pugungraharjo yang terletak di Desa Pugungraharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Sedangkan, di Museum Lampung juga terdapat replikanya yang dibuat pada tahun 1999 dengan No. Inventaris 3613.

13. Prasasti Dadak / Bataran Guru Tuha

Transkip Prasasti Dadak simpulan masa ke-14. Ditulis di media watu memakai Aksara Lampung.
Prasasti Dadak ditemukan di Dusun Dadak Desa Tebing Kecamatan Perwakilan Melintang Lampung Timur pada tahun 1994. Prasasti ditulis dalam 14 baris tulisan, terdapat pula tulisan-tulisan singkat dari gambar-gambar yang digoreskan memenuhi seluruh permukaan batu. Bentuk mirip balok berukuran 42cm x 11cm x 9cm.

Tulisan yang digunakan mirip dengan goresan pena Jawa Kuno simpulan dari masa ke 15 dengan Bahasa Melayu yang tidak terlalu Kuno (Bahasa Melayu Madya). Prasasti Dadak/Bataran Guru Tuha merupakan peninggalan masa ke-15.


14. Prasasti Hujunglangit/ Bawang

Prasasti Hujung Langit, yang dikenal juga dengan nama Prasasti Bawang, yaitu sebuah prasasti watu yang ditemukan di desa Haur Kuning, Lampung, Indonesia. Aksara yang digunakan di prasasti ini yaitu Pallawa dengan bahasa Melayu Kuno. Tulisan pada prasasti ini sudah sangat aus, namun masih teridentifikasi angka tahunnya 919 Saka atau 997 Masehi. Isi prasasti diperkirakan merupakan pemberian tanah sima.


15. Prasasti Palas Pasemah

Prasasti Palas Pasemah yaitu sebuah prasasti pada watu peninggalan Sriwijaya, ditemukan di Palas Pasemah, di tepi Way (Sungai) Pisang, Lampung. Ditulis dengan karakter Pallawa dan bahasa Melayu Kuno sebanyak 13 baris. Meskipun tidak berangka tahun, namun dari bentuk aksaranya diperkirakan prasasti itu berasal dari simpulan masa ke-7 Masehi. Isinya mengenai kutukan bagi orang-orang yang tidak tunduk kepada Sriwijaya. Prasasti Palas Pasemah mempunyai ukuran tinggi = 64 cm; lebar = 75 cm; dan tebal = 20 cm.


16. Prasasti Tanjung Raya I

Prasasti ini ditemukan pada tahun 1970 di Desa Tanjung Raya I, Kecamatan Sukau Lampung Barat. Berbentuk lonjong berukuran panjang 237 cm, lebar di bab tengah 180 cm dan tebal 45 cm.  Prasasti dituliskan pada bab permukaan watu yang keadaannya sudah aus dan rusak, terdiri dari 8 baris dan sulit dibaca namun masih sanggup dikenal sebagai huruf Jawa Kuno dari masa ke 10. Pada bab atas terdapat sebuah gambar berupa sebuah ember dengan tepian yang melengkung keluar sehelai daun. Mengingat sulitnya pembacaan prasasti ini maka isinya belum diketahui.


17. Prasasti Ulubelu

Prasasti Ulubelu yaitu salah satu dari prasasti yang diperkirakan merupakan peninggalan Kerajaan Sunda dari masa ke-15 M, yang ditemukan di Ulubelu, Desa Rebangpunggung, Kotaagung, Lampung pada tahun 1936. Prasasti Ulubelu ketika ini disimpan di Museum Nasional, dengan nomor inventaris D.154.

Prasasti Ulubelu digoreskan pada watu alam (kecil). Aksara yang tertulis pada prasasti Ulubelu sangat tipis dan kecil, keadaan aksaranya juga sangat aus serta rusak. Batu pada bab tengah patah, namun masih menunjukkan gaya dan bentuk ibarat karakter Sunda Kuno.

Prasasti dipahatkan pada sebuah watu kecil berukuran 36 x 12,5 cm, terdapat 6 baris goresan pena dengan huruf Jawa Kuno dan berbahasa Melayu Kuno.Prasasti dipahatkan pada sebuah watu kecil berukuran 36 x 12,5 cm, terdapat 6 baris goresan pena dengan huruf Jawa Kuno dan berbahasa Melayu Kuno.

Isi prasasti berupa mantra undangan tolong kepada kepada dewa-dewa utama, yaitu Batara Guru (Siwa), Brahma, dan Wisnu, serta selain itu juga kepada tuhan penguasa air, tanah, dan pohon supaya menjaga keselamatan dari semua musuh.


18. Rumah Milik Japffa Comfeed

Bangunan ini ditempati oleh Orang Belanda sebagai tempat tinggal pada masa Kolonial Belanda, didirikan pada tahun 1927 sebagai milik pribadi dan pada tahun 1990–an dibeli oleh perusahaan PT Japffa Comfeed Lampung sebagai pemilik bangunan hingga ketika ini. Bangunan tersebut hingga kini tetap dipergunakan sebagai tempat tinggal para karyawan PT Japffa Comfeed. Perencanaan dan pembangunan dikerjakan oleh orang Belanda pada waktu itu dengan konsep konstruksi Ferosement. Rumah tinggal ini terletak dijalan Pattimura No. 5 yang luas bangunannya 180 m2.

Bentuk skema bangunan segi empat, dengan langgam mengikuti Tropis, yang dipadu detail interior gaya Kolonial Bngunan berbentuk limasan.


19. Taman Purbakala Pugung Raharjo

Situs Purbakala Pugung Raharjo atau sering disebut Taman Purbakala Pugung Raharjo merupakan situs arkeologi yang terletak di Desa Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Tenggara, Provinsi Lampung, Indonesia.

Ditemukan pada tahun 1957, situs ini menjadi salah satu situs peninggalan sejarah yang cukup berharga. Situs arkeologi seluas 30 hektar ini merupakan peninggalan zaman Hindu dan Budha. Di dalamnya terdapat Punden Berundak, Arca, Prasasti, Batu Mayat atau Batu Kandang, Altar Batu, Batu Berlubang, Benteng Parit Primitif sepanjang 1,2 kilometer, dan Dolmen. Selain itu, beberapa keramik peninggalan dinasti Han, Sung, dan Ming masih sanggup ditemukan di taman purbakala ini.

Lokasi tempat situs berada kini dikelola sebagai Taman Purbakala Pugung Raharjo, terletak sekitar 52 km arah timur dari Kota Bandar Lampung.

Demikian Informasi Wisata Sejarah Bangunan dan Benda Bersejarah Peninggalan Sejarah Provinsi Lampung, semoga bermanfaat


Sumber https://www.senibudayawisata.com/

Jangan sampai ketinggalan postingan-postingan terbaik dari Tempat Wisata Wisata Sejarah Bangunan Dan Benda Bersejarah Peninggalan Sejarah Provinsi Lampung. Berlangganan melalui email sekarang juga:

Bali Attractions

BACA JUGA LAINNYA:

0 Response to "Tempat Wisata Wisata Sejarah Bangunan Dan Benda Bersejarah Peninggalan Sejarah Provinsi Lampung"

Post a Comment

Bali Attractions