Tempat Wisata Keunikan Sejarah Susila Istiadat Budaya Suku Asmat Berasal Dari Papua Irian Jaya

Keunikan Sejarah Adat Istiadat Budaya Suku Asmat Berasal dari Papua Irian Jaya Tempat Wisata Keunikan Sejarah Adat Istiadat Budaya Suku Asmat Berasal dari Papua Irian Jaya
Keunikan Sejarah Adat Istiadat Budaya Suku Asmat Berasal dari Papua Irian Jaya Keunikan Sejarah Adat Istiadat Budaya Suku Asmat Berasal dari Papua Irian Jaya Tempat Wisata Keunikan Sejarah Adat Istiadat Budaya Suku Asmat Berasal dari Papua Irian Jaya

Suku Asmat ialah nama dari sebuah suku terbesar dan paling populer di antara sekian banyak suku yang ada di Papua, Irian Jaya, Indonesia.

Populasi suku Asmat terbagi dua yaitu mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di pecahan pedalaman. Kedua populasi ini saling berbeda satu sama lain dalam hal dialek, cara hidup, struktur sosial dan ritual.

Populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi ke dalam dua pecahan yaitu suku Bisman yang berada di antara sungai Sinesty dan sungai Nin serta suku Simai.

Salah satu hal yang menciptakan suku asmat cukup dikenal ialah hasil goresan kayu tradisional yang sangat khas. Beberapa ornamen / motif yang seringkali dipakai dan menjadi tema utama dalam proses pemahatan patung yang dilakukan oleh penduduk suku asmat ialah mengambil tema nenek moyang dari suku mereka, yang biasa disebut mbis.

Namun tak berhenti hingga disitu, seringkali juga ditemui ornamen / motif lain yang ibarat bahtera atau wuramon, yang mereka percayai sebagai simbol bahtera arwah yang membawa nenek moyang mereka di alam kematian. Bagi penduduk orisinil suku asmat, seni ukir kayu lebih merupakan sebuah perwujudan dari cara mereka dalam melaksanakan ritual untuk mengenang arwah para leluhurnya.

Suku Asmat berada di antara Suku Mappi, Yohukimo dan Jayawijaya di antara banyak sekali macam suku lainnya yang ada di Pulau Papua. Sebagaimana suku lainnya yang berada di wilayah ini,

Suku Asmat ada yang tinggal di tempat pesisir pantai dengan jarak tempuh dari 100 km hingga 300 km, bahkan Suku Asmat yang berada di tempat pedalaman, dikelilingi oleh hutan heterogen yang berisi tanaman rotan, kayu (gaharu) dan umbi-umbian dengan waktu tempuh selama 1 hari 2 malam untuk mencapai tempat pemukiman satu dengan yang lainnya.

Sedangkan jarak antara perkampungan dengan kecamatan sekitar 70 km. Dengan kondisi geografis demikian, maka berjalan kaki merupakan satu-satunya cara untuk mencapai tempat perkampungan satu dengan lainnya.

Secara umum, kondisi fisik anggota masyarakat Suku Asmat, berperawakan tegap, hidung mancung dengan warna kulit dan rambut hitam serta kelopak matanya bulat.

Disamping itu, Suku Asmat termasuk ke dalam suku Polonesia, yang juga terdapat di New Zealand, Papua Nugini.

Kebiasaan bertahan hidup dan mencari makan antara suku yang satu dengan suku yang lainnya di wilayah Distrik Citak-Mitak ternyata hampir sama. suku asmat darat, suku citak dan suku mitak mempunyai kebiasaan sehari-hari dalam mencari nafkah ialah berburu hewan hutan seperti, ular, kasuari, burung, babi hutan dll. mereka juga selalu meramuh / menokok sagu sebagai makan pokok dan nelayan yakni mencari ikan dan udang untuk dimakan. kehidupan dari ketiga suku ini ternyata telah berubah.

Sehari-hari orang Asmat bekerja dilingkungan sekitarnya,terutama untuk mencari makan, dengan cara berburu maupun berkebun, yang tentunya masih memakai metode yang cukup tradisional dan sederhana. Masakan suku Asmat tidak mirip kuliner kita. Masakan istimewa bagi mereka ialah ulat sagu. Namun sehari-harinya mereka hanya memanggang ikan atau daging hewan hasil buruan.

Dalam kehidupan suku Asmat  yang biasa kita lihat dijalanan ternyata sangat berharga bagi mereka. Bahkan, batu-batu itu sanggup dijadikan sebagai mas kawin. Semua itu disebabkan lantaran tempat tinggal suku Asmat yang membetuk rawa-rawa sehingga sangat sulit menemukan batu-batu jalanan yang sangat mempunyai kegunaan bagi mereka untuk menciptakan kapak, palu, dan sebagainya.

Makanan Pokok orang Asmat ialah sagu,hampir setiap hari mereka makan sagu yang dibentuk jadi bulatan-bulatan yang dibakar dalam bara api.

Kegemaran lain ialah makan ulat sagu yang hidup dibatang pohon sagu,biasanya ulat sagu dibungkus dengan daun nipah,ditaburi sagu,dan dibakar dalam bara api.

Selain itu sayuran dan ikan bakar dijadikan pelengkap. Namun yang memprihatinkan ialah problem sumber air bersih.Air tanah sulit didapat lantaran wilayah mereka merupakan tanah berawa.

Terpaksa memakai air hujan dan air rawa sebagai air higienis untuk kebutuhan sehari-hari.

Suku Asmat ialah suku yang menganut Animisme, hingga dengan masuknya para Misionaris pembawa pedoman baru, maka mereka mulai mengenal agama lain selain agam nenek-moyang. Dan kini, masyarakat suku ini telah menganut banyak sekali macam agama, mirip Protestan, Khatolik bahkan Islam.

Seperti masyarakat pada umumnya, dalam menjalankan proses kehidupannya, masyarakat Suku Asmat pun, melalui banyak sekali proses, yaitu :

1. Kehamilan, selama proses ini berlangsung, bakal generasi penerus dijaga dengan baik biar sanggup lahir dengan selamat dengan santunan ibu kandung alau ibu mertua.

2. Kelahiran, tak usang sesudah si jabang bayi lahir dilaksanakan upacara selamatan secara sederhana dengan program pemotongan tali pusar yang memakai Sembilu, alat yang terbuat dari bambu yang dilanjarkan. Selanjutnya, diberi ASI hingga berusia 2 tahun atau 3 tahun.

3. Pernikahan, proses ini berlaku bagi seorang baik laki-laki maupun perempuan yang telah berusia 17 tahun dan dilakukan oleh pihak orang bau tanah lelaki sesudah kedua belah pihak mencapai janji dan melalui uji keberanian untuk membeli perempuan dengan mas kawinnya piring antik yang menurut pada nilai uang janji kapal bahtera Johnson, bila ternyata ada kekurangan dalam penafsiran harga bahtera Johnson, maka pihak laki-laki wajib melunasinya dan selama masa pelunasan pihak laki-laki dihentikan melaksanakan tindakan aniaya walaupun sudah diperbolehkan tinggal dalam satu atap.

4. Kematian, bila kepala suku atau kepala susila yang meninggal, maka jasadnya disimpan dalam bentuk mumi dan dipajang di depan joglo suku ini, tetapi bila masyarakat umum, jasadnya dikuburkan. Proses ini dijalankan dengan iringan nyanyian berbahasa Asmat dan pemotongan ruas jari tangan dari anggota keluarga yang ditinggalkan.

Rumah Tradisional Suku Asmat ialah Jeu dengan panjang hingga 25 meter.Sampai kini masih dijumpai Rumah Tradisional ini kalau kita berkunjung ke Asmat Pedalaman.Bahkan masih ada juga di antara mereka yang membangun rumah tinggal di atas pohon.

Dalam kehidupannya, Suku Asmat mempunyai 2 jabatan kepemimpinan, yaitu

a. Kepemimpinan yang berasal dari unsur pemerintah
b. Kepala adat/kepala suku yang berasal dari masyarakat.

Sebagaimana lainnya, kapala adat/kepala suku dari Suku Asmal sangat besar lengan berkuasa dan berperan aktif dalam menjalankan tata pemerintahan yang berlaku di lingkungan ini.

Karena segala kegiatan di sini selalu didiihului oleh program adal yang sifatnya tradisional, sehingga dalam melaksanakan kegiatan yang sifatnya resmi, diharapkan kerjasama antara kedua pimpinan ssangat diharapkan untuk memperlancar proses tersebut.

Bila kepala suku telah mendekati ajalnya, maka jabatan kepala suku tidak diwariskan ke generasi berikutnya, tetapi dipilih dari orang yang berasal dari fain, atau marga tertua di lingkungan tersebut atau dipilih dari seorang satria yang berhasil dalam peperangan.

Sebelum para misionaris pembawa pedoman agama tiba ke wilayah ini, masyarakat Suku Asmat menganut Anisme. Dan kini, masyarakat suku ini telah menganut banyak sekali macam agama, mirip Protestan, Khatolik bahkan Islam

Sejarah Suku Asmat.

Nama Asmat dikenal dunia semenjak tahun 1904. Tercatat pada tahun 1770 sebuah kapal yang dinahkodai James Cook mendarat di sebuh teluk di tempat Asmat.

Tiba-tiba muncul puluhan bahtera lesung panjang didayungi ratusan laki-laki berkulit gelap dengan wajah dan badan yang diolesi warna-warna merah, hitam, dan putih.

Mereka ini menyerang dan berhasil melukai serta membunuh beberapa anak buah James Cook. Berabad-abad kemudian pada tepatnya tanggal 10 Oktober 1904, Kapal SS Flamingo mendarat di suatu teluk di pesisir barat daya Irian jaya.

Terulang insiden yang dialami oleh James Cook dan anak buahnya. Mereka didatangi oleh ratusan pendayung bahtera lesung panjang berkulit gelap tersebut.

Namun, kali ini tidak terjadi kontak berdarah. Sebaliknya terjadi komunikasi yang menyenangkan di antara kedua pihak. Dengan memakai bahasa isyarat, mereka berhasil melaksanakan pertukaran barang.

Sejak itu, orang mulai berdatangan ke tempat yang kemudian dikenal dengan tempat Asmat itu. Ekspedisi-ekspedisi yang pernah dilakukan di tempat ini antara lain ekspedisi yang dilakukan oleh seseorang berkebangsaan Belanda berjulukan Hendrik A. Lorentz pada tahun 1907 hingga 1909. Kemudian ekspedisi Inggris dipimpin oleh A.F.R Wollaston pada tahun 1912 hingga 1913.

Suku Asmat yang tersebar di pedalaman hutan-hutan dikumpulkan dan ditempatkan di perkampungan-perkampungan yang gampang dijangkau. Biasanya kampung-kampung tersebut didirikan di bersahabat pantai atau sepanjang tepi sungai.

Dengan demikian kekerabatan eksklusif dengan Suku Asmat sanggup berlangsung dengan baik. Dewasa ini, sekolah-sekolah, PUSKESMAS dan rumah-rumah ibadah telah banyak juga didirikan peemrintah dalam rangka menunjang pembangunan tempat dan masayarakat Asmat.

Suku Asmat berdiam di daerah-daerah yang sangat terpencil dan tempat tersebut masih merupakan alam yang ganas (liar). Mereka tinggal di pesisir barat daya Irian jaya (Papua).

Mulanya, orang Asmat ini tinggal di wilayah administratif Kabupaten Merauke, yang kemudian terbagi atas 4 kecamatan, yaitu Sarwa-Erma, Agats, Ats, dan Pirimapun. (Saat ini Asmat telah masuk ke dalam kabupaten baru, yaitu kabupaten Asmat.

Jumlah penduduk di daeah Asmat tidak diketahui dengan pasti. Diperkirakan pada tahun 2000 ada kurang lebih 70.000 jiwa, 9.000 di antaranya bermukim di Kecamatan Pirimapun. Pertambahan penduduk sangat pesat, berkisar antara 28 samapi 84 jiwa setiap 1.000 orang.

Secara keseluruhan, angka kelahiran di pedalaman ialah 13 persen, di pesisir 9 persen. Angka kematian pun cukup tinggi, yaitu berksiar antara 21 hingga 45 jiwa tiap 1.000 orang.

Pada jaman dahulu, rata-rata dua setengah persen kematian orang Asmat disebabkan oleh peperangan antar kelompok atau antar desa. Seiring berkembangnya jaman, ketika ini penyebab kematian belum dewasa dan bayi, terutama pada bulan-bulan pertama banyak disebabkan oleh pneumonia, diare, malaria, dan penyakit campak.

Perkampungan orang Asmat yang jumlahnya tidak kurang dari 120 buah tersebar dengan jarak yang saling berjauhan. Kampung mereka didirikan dengan contoh memanjang di tepi-tepi sungai dan dibangun sedemikian rupa sehingga gampang mengamati musuh.

Sedikitnya ada 3 kategori kampung bila dilihat dari jumlah warganya. Kampung besar, yang umumnya terletak di pecahan tengah, dihuni oleh sekitar 500-1000 jiwa. Kampung di tempat pantai, rata-rata dihuni oleh sekitar 100-500 jiwa. Kampung di pecahan hulu sungai, jumlah warganya lebih kecil , berpenduduk sekitar 50-90 jiwa.

Demikian Keunikan Sejarah Adat Istiadat Budaya Suku Asmat Berasal dari Papua Irian Jaya

Sumber https://www.senibudayawisata.com/

Jangan sampai ketinggalan postingan-postingan terbaik dari Tempat Wisata Keunikan Sejarah Susila Istiadat Budaya Suku Asmat Berasal Dari Papua Irian Jaya. Berlangganan melalui email sekarang juga:

Bali Attractions

BACA JUGA LAINNYA:

0 Response to "Tempat Wisata Keunikan Sejarah Susila Istiadat Budaya Suku Asmat Berasal Dari Papua Irian Jaya"

Post a Comment

Bali Attractions