Tempat Wisata Keunikan Rumah Sopan Santun Tradisional Mbaru Niang Wae Rebo Flores Nusa Tenggara Timur

Keunikan Rumah Adat Tradisional Mbaru Niang Wae Rebo Flores Nusa Tenggara Timur Tempat Wisata Keunikan Rumah Adat Tradisional Mbaru Niang Wae Rebo Flores Nusa Tenggara Timur
Keunikan Rumah Adat Tradisional Mbaru Niang Wae Rebo Flores Nusa Tenggara Timur Keunikan Rumah Adat Tradisional Mbaru Niang Wae Rebo Flores Nusa Tenggara Timur Tempat Wisata Keunikan Rumah Adat Tradisional Mbaru Niang Wae Rebo Flores Nusa Tenggara Timur

Mbaru Niang yaitu rumah watak Wae Rebo yang berada di Pulau Flores Nusa Tenggara Timur ( NTT )  Indonesia. Rumah watak Mbaru mempunyai struktur cukup tinggi, berbentuk kerucut yang keseluruhannya ditutup ijuk.

Mbaru Niang mempunyai 5 tingkat dan terbuat dari kayu worok dan bambu serta dibangun tanpa paku. Tali rotan yang kuatlah yang mengikat konstruksi bangunan. Setiap mbaru niang dihuni enam hingga delapan keluarga.

Rumah watak Mbaru niang ini sangat langka sebab hanya tinggal beberapa dan hanya terdapat di kampung watak Wae Rebo yang terpencil di atas pegunungan.

Atapnya terbuat dari ijuk, didukung oleh tiang kayu pusat, semua direkatkan memakai rotan dan tanpa paku sama sekali.

Mbaru Niang berbentuk kerucut dengan atap yang hampir menyentuh tanah. Atap yang dipakai rumah watak Mbaru Niang ini memakai daun lontar. Mirip rumah watak honai di Papua,

Sejarah Rumah Adat Mbaru Niang Wae Rebo

Mbaru niang di Wae Rebo merupakan rumah watak warisan nenek moyang ratusan tahun yang lalu. Konon, leluhur mereka mewariskan 7 buah mbaru niang di Wae Rebo. Namun, sebab perbaikan mbaru niang perlu biaya besar, mbaru niang di Wae Rebo lambat laun mulai rusak dimakan usia.

Menurut catatan spesialis antropologi, Catherine Allerton yang mengadakan penelitian di Wae Rebo; pada tahun 1970-an rumah watak di Wae Rebo ini sudah terlihat mulai rusak.

Rumah-rumah kerucut mbaru niang yang rusak diperbaiki. Mbaru niang yang hilang didirikan lagi. Di atas pegunungan yang berkabut, kini sudah berdiri 7 rumah kerucut mbaru niang yang kokoh.

Fungsi Rumah Adat Mbaru Niang Wae Reb

Setiap lantai rumah Mbaru Niang mempunyai ruangan dengan fungsi yang berbeda beda yaitu:

1.tingkat pertama disebut lutur dipakai sebagai kawasan tinggal dan berkumpul dengan keluarga
2.tingkat kedua berupa loteng atau disebut lobo berfungsi untuk menyimpan materi makanan dan barang-barang sehari-hari
3.tingkat ketiga disebut lentar untuk menyimpan benih-benih tanaman pangan, menyerupai benih jagung, padi, dan kacang-kacangan
4.tingkat keempat disebut lempa rae disediakan untuk stok pangan apabila terjadi kekeringan,
5.tingkat kelima disebut hekang instruksi untuk kawasan sesajian persembahan kepada leluhur

Struktur Rumah Adat Tradisional Mbaru Niang Wae Rebo Nusa Tenggara Timur

Kontruksi bangunan rumah ini memakai sistem pasak dan pen yang kemudian di ikat memakai rotan

Untuk membangun sebuah mbaru niang, masyarakat Wae Rebo mempersiapkannya hingga satu tahun, sebab keseluruhan materi bangunan diambil secara bijaksana dari hutan yang mengelilingi kampung wae rebo.

Bahan utama menyerupai kayu utama yang menjulang ditengah setinggi 15 meter, diambil dari satu pohon utuh, dan sebelum di pakai, kayu tersebut telah dipersiapkan secara tradisional supaya menjadi kayu yang baik dan berpengaruh dan dipilih kayu yang cukup umur.

Selain kayu, masyarakat juga mengumpulkan bermeter-meter rotan untuk mengikat, ijuk dan alang-alang untuk atap dan bambu. seluruh materi ini dipersiapkan dan dikumpulkan sedikit-sedikit sesuai yang disediakan alam yang sanggup diambil secara bijaksana oleh masyarakat.

Pondasi dari mbaru niang terdiri dari beberapa bilang batang kayu yang ditanam ke tanah sedalam 2 meter. terdapat permasalah pondasi pada bangunan lama, yaitu kayu yang membusuk sebab lembab atau rapuh, sehingga tak berpengaruh menahan keseluruhan bangunan rumah. seiring dengan kedatangan tamu dan beberapa masukan dari ahli, pondasi mbaru niang kini dibungkus dengan plastik dan ijuk untuk melindungi kayu bersentuhan pribadi dengan tanah wae rebo yang lembab.

Lantai Pertama

lantai pertama ini berdiameter 11 meter, dan merupakan lantai utama, dimana disinilah kehidupan sosial masyarakat berlangsung. lantai pertama ini dibentuk segera sesudah pondasi akibat dilaksanakan, berlandaskan balok-balok dan hamparan papan kayu dan dikelilingi glondongan rotan besar sebagai dudukan utama atap. Di atas lantai pertama inilah didirikan tiang utama hingga kepucuk mbaru niang / Ngando yang dilngkapi dengan tangga bambu untuk menaiki setiap tingkatnya.

Tiang Utama / Bongkok

Tiang utama berdiri diatas lantai pertama. untuk menyangga tiang utama ini, ditahan dengan tali rotan yang diikatkan pada tiga hingga 4 pasak.tiang utama ini akan menjadi penyangga dari keseluruhan acara pembangunan rumah, sehingga harus sangat diyakinkan ikatan pada pasaknya benar-benar kuat.

Penyangga Dinding dan dinding (atap)

Penyangga dinding yang sekaligus berfungsi sebagai atap ini yaitu kumpulan rotan dalam satu ikatan, ukurannya sangat besar, dan panjangnya diubahsuaikan dengan keliling lingkaran, jadi yang paling panjang yaitu pada lantai satu, sepanjang 34,54 m (keliling lingkarang = 2 phi  r) dan semakin keatas semakin pendek. kumpulan rotan inilah yang membentuk bulatan pada mbaru niang.

selain kumpulan rotan besar itu sebagai penyangga utama, ada juga bambu-bambu / buku bambu yang berfunsi sebagai ‘reng’ atau penyangga yang mengikat sekumpulan-kumpulan ijuk atau alang-alang yang disusun bergantian

Pekerjaan Lanjutan

Setelah lantai pertama dan tiang utama berdiri, pembangunan tiap-tiap lantai akan menyesuaikan, dibangun secara simultan dari lantai terbawah, terus hingga keatas. sesudah keseluruhan struktur utama selesai, hingga bambu-bambu pengikat atap siap, barulah pemasangan ijuk dan alang-alang dilakukan untuk menutupi keseluruhan rumah.

Makna dan filosofi

Baru Niang bukan hanya sekedar kawasan berlindung dari hujan dan gangguan dari luar. Bagi suku “anggarai yang menghuni desa Wea Rebo,” Baru Niang” merupakan wujud keselarasan insan dengan alam serta merupakan cerminan fisik dari kehidupan sosial warga desa Wea Rebo

Konon dulunya leluhur suku “anggarai yang bermukim di dataran Flores mempunyai delapan orang peWaris, Oleh sebab itu terdapat delapan suku yang tersebar di dataran Flores. Namun leluhur mereka ketika itu tidak membangun delapan rumah untuk dihuni oleh masing-masing kepala keluarga. Hanya terdapat tujuh buah “Baru Niang yang masing-masing “Baru Niang dihuni oleh tujuh keluarga dari setiap suku. Tujuan para leluhur terdahulu yaitu supaya sosialisasi antar suku semakin dekat dan sanggup terus terjalin hubungan antar tiap keluarga

Lokasinya berbatasan pribadi dengan Taman Nasional Komodo. Berada sekitar 1.100 mdpl, Wae Rebo merupakan sebuah desa terpencil yang dikelilingi pegunungan dan panorama hutan tropis lebat di Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores.

Wae Rebo kini telah tumbuh menjadi tujuan favorit untuk eko pariwisata. Untuk hingga ke Wae Rebo, sanggup dipilih jalur melalui Ruteng dan trekking dari Desa Sebu Denge ke Sungai Ras Wae.

Desa Wae Rebo sanggup ditempuh 4 jam perjalanan darat dari Ruteng dengan medan berkelok menuju Desa Dintor. Dari Dintor kemudian jalan pribadi menanjak. Melewati pematang sawah dan jalan setapak dari Sebu hingga Denge. Perjalanan masih berlanjut menuju Sungai Wae Lomba. Barulah sesudah sungai itu akan tiba di Desa Wae Rebo.

Selain mempunyai rumah watak mbaru gendang, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, juga mempunyai rumah watak mbaru niang.

Demikian Keunikan Rumah Adat Tradisional Mbaru Niang Wae Rebo Flores Nusa Tenggara Timur

Sumber https://www.senibudayawisata.com/

Jangan sampai ketinggalan postingan-postingan terbaik dari Tempat Wisata Keunikan Rumah Sopan Santun Tradisional Mbaru Niang Wae Rebo Flores Nusa Tenggara Timur. Berlangganan melalui email sekarang juga:

Bali Attractions

BACA JUGA LAINNYA:

0 Response to "Tempat Wisata Keunikan Rumah Sopan Santun Tradisional Mbaru Niang Wae Rebo Flores Nusa Tenggara Timur"

Post a Comment

Bali Attractions