Tempat Wisata Keunikan Rumah Etika Tradisional Uma Mentawai Sumatera Barat

Keunikan Rumah Adat Tradisional Uma Mentawai Sumatera Barat Tempat Wisata Keunikan Rumah Adat Tradisional Uma Mentawai Sumatera Barat
Keunikan Rumah Adat Tradisional Uma Mentawai Sumatera Barat  Keunikan Rumah Adat Tradisional Uma Mentawai Sumatera Barat Tempat Wisata Keunikan Rumah Adat Tradisional Uma Mentawai Sumatera Barat

Rumah Adat Mentawai merupakan rumah tabiat tradisional suku Mentawai di pulau Siberut Mentawai Sumatera Barat . Rumah Adat suku Mentawai ini mempunyai konsep desain tradisional. Rumah tabiat Mentawai disebut rumah tabiat Uma.

Uma ini dihuni oleh secara bersama oleh lima hingga sepuluh keluarga. Secara umum konstruksi uma ini dibangun tanpa menggunakan paku, tetapi dipasak dengan kayu serta sistem sambungan silang bertakik

Bagian depan rumah Adat Mentawai yakni berupa teras yang dalam bahasa Mentawai disebut Talaibo. Talaibo ini merupakan pecahan rumah tabiat yang berfungsi sebagai tempat untuk menerima, juga sebagai tempat berkumpulnya keluarga sebelum mengadakan program keluarga atau ritual keagamaan.

Bagian tengah Rumah Adat di Mentawai yakni berupa 3 ruangan yang dibagi sama besar.
Ruang-ruang ini disebut Tengan – Uma. Tengan – Uma merupakan ruangan yang berfungsi untuk tidur, melaksanakan program dan ritual, serta tempat berkumpul keluarga.

Bagian Belakang rumah tradisional Uma yakni Dapur atau disebut Batsapo. Ini merupakan ruang digunakan untuk memasak, mencuci, dan menyimpan peralatan.


Rumah tabiat Mentawai didesain menurut beberapa dasar pertimbangan, selain keadaan iklim, cuaca dan keadaan lingkungan, rumah tabiat Uma juga didesain dengan mempertimbangkan nilai-nilai kepercayaan yang mereka anut. Tata ruang dalam pada rumah tabiat Uma mengandung nilai filosofi sebagai berikut :

Pada sketsa rumah tabiat Mentawai, terbagai dua, termasuk perletakan ruang-ruangnya yang berada pada sebelah kiri dan kanan yang dipisahkan oleh ruang kosong (aula). Kamar – kamar pada pecahan kiri merupakan wilayah bagi kaum perempuan, ruang untuk tamu, dan untuk mengadakan program atau ritual, sedangkan pecahan kanan merupakan ruangan bagi laki-laki. Berdasarkan filosofi tersebut maka dalam pembuatan rumah tabiat Mentawai selalu menggunakan pagian pangkal pohon untuk struktur rumah tabiat pecahan depan dan pecahan kanan, sedangkan pecahan ujung kayu, digunakan sebagai struktur rumah bagain kiri dan belakang.

Rumah Adat Tradisional Uma Mentawai  terdapat tiga macam rumah, yaitu

1. Uma
Rumah besar yang menjadi rumah induk tempat penginapan bersama serta tempat menyimpan warisan pusaka, dan menjadi tempat suci untuk persembahan, penyimpanan tengkorak hewan buruan.

Setiap kampung mempunyai Uma sendiri. Kepala Uma disebut Rimata, lambang pemimpin kehormatan, orang yang lebih akil mengenai hal-hal yang penting buat Uma, seseorang yang berbakat menjadi pemimpin.Uma yakni rumah besar yang berfungsi sebagai balai pertemuan semua kerabat dan upacara-upacara bersama bagi semua anggotanya. Uma terbuat dari kayu kokoh dan berbentuk rumah panggung yang dibawahnya digunakan sebagai tempat pemeliharaan ternak mirip babi.

2. Lalep

Tempat tinggal suami istri yang pernikahannya sudah dianggap sah secara adat. Biasanya lalep terletak di dalam Uma.

3. Rusuk
Suatu pemondokan khusus, tempat penginapan bagi bawah umur muda, para janda dan mereka yang diusir dari kampung.

Struktur Rumah Adat Tradisional Uma Mentawa

Uma dibangun tanpa menggunakan paku satupun. Kekuatan konstruksinya didapat dari sistem sambungan silang bertakik dan sambungan berpasak yang piwai. Bangunan uma ibarat atap tenda memanjang yang dibangun diatas tiang-tiang, alasannya atap yang terbuat dari rumbia yang menaungi menjulur ke bawah hingga hampir mencapai lantai rumah.

Pohon sagu atau rumbia merupakan materi epilog atap dari daun daun pohon rumbia yang banyak tumbuh di rawa atau di pantai. Kelebihan menggunakan atap rumbia yaitu terlihat alami, menimbulkan suasana baru, ringan dan relatif murah. Sedangkan kekurangannya ialah daya tahan maksimal 4 tahun, sulit melaksanakan upaya perbaikan atau pergantian, dan rawan bocor jikalau terjadi hujan lebat.Kerangka bangunan, terdiri dari lima perangkat konstruksi dari tonggak-tonggak, balok-balok, dan tiang-tiang penopang atap.

Kerangka bangunan ini dibangun berjejer melintang ke belakang dan saling bekerjasama dengan balok memanjang.Kekuatan struktur Uma dihasilkan oleh teknik ikat, tusuk dan sambung sedemikian rupa. Bahan Uma diambil dari alam sekitar dan dipilih yang bermutu baik.

Denah

Luas rumah persatuan kepala keluarga dengan rata-rata panjang : 31 m, lebar : 10 m, dan tinggi = 7 m. Pembagian ruangannya cukup sederhana, di pecahan depan yakni serambi terbuka yang merupakan tempat untuk mendapatkan tamu. Sedang pada pecahan dalam digunakan untuk ruang tidur keluarga. Di ruangan ini terdapat pula perapian yang digunakan untuk memasak suatu keadaan yang masuk akal mengingat kegiatan siang hari bagi laki-laki dihabiskan di ladang atau di hutan, sementara istrinya bertugas di kebun halaman dan memasak. Bangunan uma ini terdiri atas dua pecahan ruangan besar. Di depan ada beranda yang luas tanpa dinding yang berfungsi untuk ruang tamu dan ruang keluarga berkumpul dan bercakap-cakap pada malam hari. Di belakangnya, ruangan yang berdinding menjadi ruang tidur dan dapur, tanpa sekat.

Pondasi

Pondasi rumah terbuat dari watu karang. Batu karang terbukti cocok untuk menjadi pondasi.
Selain itu, watu kali langka di Mentawai, sehingga watu karang menjadi pilihan utama. Tiang-tiang utama (uggla) misalnya, selalu dipilih pohon uggla yang sudah tua. Dua batang pohon, setara 7m3 hingga 9m3 kayu, untuk mendirikan Uma sebesar 7m x 22m dengan 10 buah uggla. Material uggla berupa kayu arriribuk (Oncospermae horridum, merupakan salah satu marga dari suku pinang-pinangan (Arecaceae).

Kolom pada Uma dibuat tidak sama panjang untuk menanggulangi keadaan kontur tanah yang tidak rata. Penyusunan tiang dan balok pada prinsipnya tidak menggunakan paku, tapi dengan cara menggunakan teknik ikat, tusuk, dan sambung, juga menggunakan sambungan lubang dengan pasak, sambungan pangku dan sambungan takik. Susunan tiang-tiang tersebut bersandar di atas watu pondasi dengan stabilitas didapat dari rel-rel melintang yang masuk ke lubang yang dibuat di dalam tiang.

Dinding

Sisi depan rumah ditutup dengan dinding atap rumbia yang terbentang kebawah hingga batas 1 m (ditengah (tempat masuk) 1,5 m) dari lantai. Rumbia atau disebut juga (pohon) sagu yakni nama homogen palma penghasil pati sagu. Dinding sebelah dalam diatas tempat masuk diperkokoh dengan selembar papan yang dihiasi gambar (tagga) atau ukiran, sedangkan ruangan dibawahnya dan sisi kanan dan kirinya tidak berdinding, yang disebut serambi depan.

Lantai

Lantai beranda dari papan, sedangkan lantai ruangan tidur dan dapur dari belahan kayu pohon kelapa yang dipasang jarang-jarang sehingga hampir sepanjang malam penghuni rumah tidak tidur mendengar bunyi babi yang amat berisik di bawah kolong rumah. Batang kelapa renta sanggup dijadikan materi bangunan, mebel, jembatan darurat, kerangka bahtera dan kayu bakar. Batang yang benar-benar renta dan kering sangat tahan terhadap sengatan rayap. Kayu dari pohon kelapa yang dijadikan mebel sanggup diserut hingga permukaannya licin dengan tekstur yang menarik. Tinggi lantai 1 m dari tanah, yang dibangunnya ditempat yang tidak rata, ketidakrataan ditanggulangi dengan tiang-tiang penopang lanai yang berlainan panjangnya.

Sedangkan fungsi tanah dibawah kolong dijadikan kubangan babi sebagai donasi ketika hujan dan sebagai perolehan makanan sampah yang dijatuhkan ke bawah lewat celah-celah lantai yang terbuat dari pohon nibung. Pohon nibung merupakan flora orisinil daerah Asia Tenggara, tinggi pohon mencapai 20 m, batangnya lurus berduri, digunakan untuk materi bangunan atau lantai rumah, daun yang renta digunakan sebagai atap rumah, umbutnya yummy dimakan.

 Namun lantai yang jarang itu juga menuntaskan persoalan sampah rumah tangga. Saat memasak, potongan sayur, kulit kentang, dan sisa makanan tinggal dibuang ke sela lantai dan eksklusif disambar oleh babi-babi di bawah sana. Lantai digunakan pula untuk menari (puturukat). Yang letaknya dilorong tengah, antara perapian dan dinding belakang bangsal dan terbuat dari papan yang lebar serta diserut hingga halus sehingga tidak kesat lagi permukaannya, juga bahkan sanggup menghasilkan instrumen musik pula.

Kolong
Terdapat dibawah rumah tempat tinggal dan tidak mempunyai dinding. Kolong ini dimanfaatkan sebagai tempat untuk berternak babi.

Atap
Atap Uma disebut tobat, yang dipilih dari daun sagu yang renta dan disusun rapat. Karena itulah Uma sanggup bertahan selama puluhan tahun. Atap uma gres diganti sehabis lebih 20 tahun. Sebuah uma masih sanggup digunakan sehabis 2 atau 3 kali ganti tobat. Reng – reng terbuat dari kayu pohon palem dan yang mendukung atap dan rumbia bertopang ke balok – balok memanjang sebelah bawah dan tengah.

Pintu
Uma ini berukuran cukup besar dan terbuka lebar, tidak mempunyai pintu. Yang unik dari uma ini yakni banyaknya tengkorak hewan terpajang di erat atap pintu masuk teras tamu dan ruang utama serta ada anyam-anyaman kering yang terpintal panjang. Tengkorak yang digantung pada sisi atas pintu masuk yakni tengkorak babi peliharaan. Banyaknya tengkorak babi itu pertanda jumlah pesta yang telah digelar di uma tersebut. Sementara tengkorak yang digantung di erat sisi atas pintu ruang utama yakni tengkorak hasil buruan yang dimaksudkan semoga penunggu uma senantiasa mendapatkan rezeki.

 Jendela
Setelah masyarakat Siberut mulai mengenal dapur untuk kegiatan memasak, Uma mulai dipasangi jendela sehingga ventilasi menjadi lebih baik.

Tangga
Tangga terbuat dari batang pohon Sagu, yang tiap ± 15 cm diberi takuk-takuk dengan sedikit demi sedikit kapak untuk tempat berjalan

Ornamen/ragam hias
Pola-pola ornamen atau dekorasi rumah Mentawai, sangat dipengaruhi oleh dampak India wujudnya berupa bentukan sulur-sulur yang bentuk tumbuh-tumbuhannya dengan dedaunan dan bunga-bungaan.

Fungsi Rumah Adat Tradisional Uma Mentawa

Di muka tempat masuk yang sebenarnya. Disini terdapat watu pengasah kapak dan pisau, dan ditaruh bumbung bambu yang besar untuk digunakan para perempuan dan anak- anak untuk mengambil air dari anak sungai yang erat dengan rumah. Sedangkan para laki-laki menggunakan tempat ini pada siang hari yang pengap dan bercuaca mendung untuk mengurus perkakas. Dinding sebelah dalam diatas tempat masuk diperkokoh dengan selembar papan yang seringkali dihiasi gesekan atau gambar (tangga).Ruangan dibawahnya terbuka, dan sisi kanan dan kirinya pecahan pertama dari rumah yang berada dibawah naungan atap tidak berdinding, yang biasa disebut dengan serambi depan atau kagareat dengan panjang lima meter.

1. Diantara tiang-tiang dipasang bangku-bangku disebelah kiri dan kanannya.
2. Beranda depan difungsikan untuk berkumpul, mengobrol dan mendapatkan tamu.
Ruang dalam pertama, cahaya diperoleh lewat lubang pintu, ruangan yang dimaksud berwujud mirip bangsal yang panjang dan gelap dengan dinding papan yang menutupi sisi samping dan belakangnya. Kecuali lewat lubang pintu tingkap, kadang cahaya diperoleh lewat celah yang terjadi dengan jalan melepaskan salah satu papan dinding, dengan cara mirip ini jg sanggup dipergunakan untuk masuk ke bilik-bilik samping (jairabba) yang berada di bawah pecahan samping atap, dengan lantai panggung tersendiri. Pada panggung mirip ini ditaruh tuddukat, yaitu perangkat laba ynag terdiri dari empat batang kayu yang dilubangi dengan cara menciptakan celah dan dengan panjang satu setengah hingga tiga meter.

Pertengahan rumah, terdapat konstruksi balok yang melintang. Dilantai sebelah depannya ada perapian yang lebarnya mengisi seluruh lorong tengah, berfungsi sebagai tempat memasak seluruh kelompok ketika perayaan. Perapian terbuat dari tanah yang dipadatkan dalam segi empat yang dibuat oleh balok-balok yang saling dihubungkan dalam sistem pasak.

Ruangan uma terbagi menjadi 2 bagian, yaitu :

a. Bagian depan : yakni serambi terbuka yang merupakan tempat untuk berkumpul, mengobrol, dan mendapatkan tamu. Di malam hari tempat ini digunakan untuk bercerita atau bercakap-cakap wacana bencana sehari-hari, serta di gunakan sebagai ruang tidur bagi para pria.

b. Bagian dalam : digunakan untuk ruang tidur keluarga. Di ruangan ini terdapat pula perapian yang digunakan untuk memasak. Pada pecahan tengah Uma terdapat ruangan untuk berkumpul dan dan menarikan tarian tabiat Mentawai.


Ciri khas Rumah Adat Tradisional Uma Mentawai

Di tiap rumah tangga Mentawai mempunyai ladang sagu sendiri yang ditandai dengan tumbuhan kayu Irip sebagai pembatas antar ladang mereka Seperti halnya pohon kelapa tidak ada yang tidak terbuang dari sebuah pohon sagu.

Daunnya untuk atap rumah, isi batangnya untuk makanan babi dan ayam dan sagu hasil saringan digunakan sebagai makanan ringan Orang Mentawai, kulit batangnya dijadikan untuk kayu bakar.

Sementara akarnya digunakan untuk obat sakit perut dan pelepahnya digunakan untuk kayu timba , buahnya yang masak juga sanggup dimakan. Bahkan ulat yang ada di batang sagu juga sanggup menjadi santapan enak

Demikian Keunikan Rumah Adat Tradisional Uma Mentawai Sumatera Barat

Sumber https://www.senibudayawisata.com/

Jangan sampai ketinggalan postingan-postingan terbaik dari Tempat Wisata Keunikan Rumah Etika Tradisional Uma Mentawai Sumatera Barat. Berlangganan melalui email sekarang juga:

Bali Attractions

BACA JUGA LAINNYA:

0 Response to "Tempat Wisata Keunikan Rumah Etika Tradisional Uma Mentawai Sumatera Barat"

Post a Comment

Bali Attractions